in

Fnatic Akuisisi Tim Rocket League!

Fnatic, salah satu organisasi gaming terbesar di dunia melebarkan sayap ke game baru yakni Rocket League.

Fnatic mengakuisisi The Leftovers, salah satu tim paling kuat di divisi 2 Rocket League Rival Series (RLRS) yang sebentar lagi akan segera menghadapi Promotional Playoffs untuk naik ke divisi tertinggi Rocket League Eropa yakni Rocket League Championship Series EU (RLCS EU)

6 Oktober 2017 lalu, Fnatic mengumumkan di situs resmi mereka mengenai bergabungnya Fnatic di Rocket League. Tim yang Fnatic ambil bukanlah tim sembarangan. The Leftovers merupakan salah satu tim terbaik di Eropa, memimpin klasemen Rocket League Rival Series untuk Season 4 Eropa.

The Leftovers finish di posisi 4 pada RLCS World Championship bulan Juni lalu, kompetisi tingkat tertinggi untuk Rocket League.

Squad Leftovers yang diakuisisi Fnatic berasal dari Eropa, dengan komposisi pemain yang terkenal sangat baik dalam bermain offensive dan juga skill mumpuni dalam mengolah bola dan teamwork yang menunjukkan kombinasi talenta mumpuni dan skill komunikasi yang baik.

  • Nicolai ‘Maestro’ Bang
  •  Alexander ‘Sikii’ Karelin
  •  Nicolai ‘Snaski’ Andersen

Maestro adalah salah satu nama pemain besar, sebelumnya pernah bermain untuk Northern Gaming dan EnvyUS. Maestro merupakan pemain yang bermain cukup baik sepanjang musim Rocket League 2017.

Maestro dan Snaski sendiri berasal dari Denmark. Sementara Sikii berasal dari Jerman. Bermain di Eropa membuat keuntungan tersendiri mengingat besarnya basis fanbase Fnatic di Eropa dan loyalitas dukungan mereka bahkan untuk genre game apapun.

Fnatic Rocket League baru saja menutup musim mereka dengan posisi 1 di klasemen akhir Rival Series Eropa, memastikan tiket ke Promotional Playoffs RLCS EU. Salah satu alasan Fnatic memilih tim Leftovers mungkin karena penampilan memukau dan bagaimana mereka mendominasi sepanjang musim dengan Rekor Akhir 7-0.

Promosi ke Rocket League Championship Series (RLCS) atau divisi utama Rocket League Eropa akan membuat Fnatic berkompetisi dengan tim Rocket League terbaik Eropa seperti EnvyUS dan PSG eSports. Panji Hitam-Orange khas Fnatic siap untuk berkompetisi di tingkat yang lebih tinggi.

Rocket League menawarkan genre esports yang unik, menggabungkan elemen sepakbola dan racing. Besarnya fanbase Rocket League di Eropa disinyalir karena adanya kesamaan antara gameplay Rocket League dengan sepakbola dan menjadikan game ini salah satu esports yang cocok diikuti untuk mereka yang awam namun ingin mencari tahu dan menikmati competitive gaming. 

Meskipun belum terlalu populer di Indonesia, Rocket League mempunyai potensi tersendiri untuk menjadi lebih besar karena keunikan genre dan gameplay yang ditawarkan, serta potensi ekspansi untuk tim sepakbola yang ingin mengembangkan divisi esports macam Paris Saint German (PSG)

Masuknya Fnatic ke Rocket League menambah besar lagi keluarga besar Fnatic bersama divisi CS:GO, LoL, Dota 2, Vainglory, Paladins, FIFA, HOTS, dan banyak lagi.

Good Luck Fnatic!

Diedit oleh Yabes Elia

Written by Rudi Hartanto

Providing fresh insights and unique perspective in my piece(s).
Esports Historian. For discusion feel free to follow on twitter : @therudihartanto.