in ,

5 Mitos PC Gaming Esports!

image credit: zilbest.com

Faktanya, PC gaming memang membutuhkan sekian banyak pengetahuan yang harus diketahui para penggunanya untuk mendapatkan pengalaman bermain yang nyaman; berbeda dengan console yang memang dibangun dengan tujuan utama sebagai sebagai mesin gaming.

Dengan tren esport yang semakin meluas, termasuk ke gamer mobile dan pengguna PC awam, ada banyak miskonsepsi A.K.A mitos yang dipercaya oleh para PC gamer pemula yang juga tertarik ke esports alias aspek ajang kompetitif dari PC gaming.

Karena itulah, kami ingin membantu kawan-kawan semua di sini dengan meluruskan sejumlah miskonsepsi tadi.

Sebagai bentuk justifikasi dan argumentasi, saya kira saya harus menuliskan latar belakang dan pengalaman saya yang sebelumnya juga bekerja sebagai reviewer untuk salah satu franchise media PC gaming terbesar di dunia dan telah menguji ratusan produk komponen PC, seperti motherboard, prosesor, kartu grafis, power supply, RAM, sampai gaming peripheral selama 5 tahun.

Akhirnya, tanpa basa-basi lagi, inilah 5 mitos PC gaming esports yang perlu diluruskan.

1. Kita butuh komponen berlabel ‘gaming’ untuk bermain game?

image credit: Guru3D

Beberapa tahun silam, mulai muncul produk-produk yang dilabeli akhiran ‘gaming’ untuk komponen ataupun peripheral PC. Karena tren ini, banyak pengguna jadi merasa perlu dan butuh komponen-komponen ‘gaming’ untuk bermain game di PC dengan nyaman.

Faktanya, kita tidak butuh atau perlu produk berlabel gaming karena sebenarnya semua komponen PC bisa digunakan untuk bermain game dengan nyaman, tergantung dari komponen, game, dan pengetahuan kita.

Contoh paling sederhana misalnya motherboard. Semua motherboard untuk PC sebenarnya bisa digunakan untuk bermain game dan berkarir di esports. Laptop juga demikian. Penentu kemampuan gaming di satu PC (desktop ataupun laptop) ada di kartu grafis, prosesor, ataupun komponen yang digunakan, bukan label gaming-nya.

Misalnya, laptop yang berlabel gaming akan memberi pengalaman gaming yang sama dengan yang tidak jika komponen-komponen yang digunakan sama persis, misalnya sama-sama menggunakan NVIDIA GeForce GTX 1050 dan setiap komponen lainnya.

Demikian juga dengan PC, baik yang rakitan ataupun built-in. Jika kalian sudah menggunakan kartu grafis NVIDIA bahkan yang seri terjangkau sekalipun, misalnya GeForce GT 1030, kemampuan gaming PC tersebut, kemungkinan besar, sudah jauh lebih baik ketimbang yang masih menggunakan grafis onboard, terlepas dari komponen lain yang digunakan berlabel gaming atau tidak.

Kenapa hal ini penting diluruskan? Karena harga produk yang dilabeli gaming biasanya jadi lebih mahal ketimbang yang tidak. Jadi, jika kalian punya anggaran yang terbatas, lebih baik anggaran tersebut digunakan untuk mendapatkan faktor yang lebih signifikan untuk kebutuhan esports (yang akan kita bahas di bagian kedua) ketimbang untuk membeli produk dengan embel-embel gaming di belakangnya.

2. Spesifikasi PC lebih penting ketimbang internet provider?

Untuk mereka-mereka yang lebih suka bermain game single-player, spesifikasi PC memang menjadi penting karena game-gamenya berat-berat ketimbang game-game kompetitif paling populer (Dota 2, CS:GO, LoL).

Untuk kebutuhan esports alias kompetitif, koneksi internet dari internet provider kita jauuuuuuuuuuuuuuuuh lebih penting. Kenapa? Karena pengalaman bertanding melawan musuh-musuh dari segala penjuru dunia itu lebih berharga untuk mengasah kemampuan bermain kalian – ketimbang tampilan grafis paling manis.

BACA JUGA: 9 Pemain Esports Terbaik Asal Indonesia

Apalagi sekarang ini banyak motherboard gaming yang dibekali dengan fitur-fitur semacam gaming network. Faktanya, penentu koneksi kalian bukan di sana tapi di penyedia layanan internet yang digunakan. Semahal apapun komponen PC yang bisa kalian beli tidak akan berdampak apapun terhadap kecepatan internet jika masih menggunakan penyedia layanan internet yang kelas ‘bawah’.

Jadi, jika kalian memang ingin fokus ke esports, carilah penyedia internet dengan ping terendah, minimal ke server Singapura (karena biasanya para pemain wilayah Asia Tenggara berkumpul dan bermain di server Singapura). Ping alias response rate juga lebih penting ketimbang besaran bandwith untuk kebutuhan esports. Sayangnya, kebanyakan penyedia layanan internet lebih suka mengiklankan besaran bandwith ketimbang response rate.

3. Mata kita tidak bisa membedakan antara 30 dan 60 fps (frame per second)?

Miskonsepsi ini datang dari kebanyakan gamer-gamer console yang lebih sering terbiasa bermain di 30 fps. Namun di PC gaming dan esports, standar internasional yang berlaku adalah 60 fps.

Memang, sebelumnya saya tadi mengatakan koneksi internet itu lebih penting ketimbang spesifikasi PC namun bukan berarti spesifikasi yang bisa digunakan itu bisa seenak jidat. Batasan spesifikasi yang dibutuhkan sebenarnya hanyalah sebatas mampu menjalankan game yang jadi fokus kompetitif kalian di 60 fps (setidaknya) di resolusi native monitor yang kalian gunakan.

Jadi, jika kalian masih menggunakan kartu grafis kelas low-end, matikan banyak fitur grafis seperti anti-aliasing, anisotrophic filtering, ambient occlusion, dkk. dan setel kualitas yang lebih rendah, sampai gamenya bisa berjalan 90% (atau bahkan 99%) waktu bermain di 60 fps.

60 fps untuk game-game esports populer seperti Dota 2, CS:GO, dan LoL ini sebenarnya sangat mudah dicapai bahkan dengan kartu grafis yang terjangkau seperti NVIDIA GeForce GT 1030 atau malah GeForce GTX 750Ti selama kalian tidak memaksakan bermain dengan setting grafis ‘rata kanan’.

4. 120Hz atau 144Hz adalah standar baru PC gaming dan esports?

Berbeda dengan permasalahan framerate 30 vs. 60fps, perbedaan antara refresh rate monitor 60hz dengan yang lebih tinggi, baik 120Hz ataupun 144Hz, tidak akan terlalu signifikan. 4 dari 5 kali percobaan, setidaknya dari yang pernah saya ujikan dulu (dan beberapa pengujian yang dilakukan oleh sejumlah reviewer lainnya), mata kita belum bisa membedakan mana yang berjalan di 144Hz dan mana yang masih 60Hz.

Saya sendiri memang tidak menafikkan perbedaan tersebut namun, faktanya, monitor dengan refresh rate di atas 60Hz itu masih jauh lebih mahal. Jadi, monitor dengan refresh rate di atas 60 fps itu lebih bisa dikatakan sebagai kemewahan; tidak seperti soal koneksi dengan response time rendah dan framerate 60 fps yang bisa diprioritaskan lebih tinggi alias kebutuhan atau kewajiban.

5. PC gaming esports itu mahal?

Inilah mungkin miskonsepsi atau mitos PC gaming terakhir yang masih dipercaya banyak orang. Padahal faktanya, miskonsepsi ini juga berdasarkan dari miskonsepsi dan mitos-mitos yang sebelumnya saya tuliskan tadi.

Misalnya, mitos seperti produk, komponen atau peripheral gaming itu wajib untuk bermain game di PC dan 144Hz jadi standar baru PC gaming itu yang tak jarang buat anggaran jadi membengkak.

Padahal standar yang wajib dipenuhi untuk kebutuhan PC esports itu hanyalah 60 fps dan koneksi internet dengan response time alias ping rendah. Koneksi internet yang katanya ‘unlimited‘ (pakai tanda bintang jika diiklan) tapi pakai FUP (Fair Usage Policy) – saya tidak perlu sebut namanya ya hahaha – itu juga bahkan lebih mahal ketimbang penyedia jasa layanan internet yang sepenuhnya unlimited dan lebih bisa diandalkan.

Selain itu, ada juga miskonsepsi atau mungkin kebiasaan buruk lain dari kebanyakan pengguna PC yang lebih mementingkan spesifikasi tinggi ketimbang daya tahan dan kurang bijak dalam mengalokasikan anggaran, misalnya dengan membeli prosesor dengan harga Rp.5 juta, kartu grafis Rp.3 juta tapi PSU (Power Supply) nya Rp.300 ribu atau bahkan di bawah Rp.100 ribu.

Hal ini juga yang biasanya membuat PC gaming jadi mahal karena PSU abal-abal itu, kemungkinan besar, harus diganti tidak sampai 1 tahun. Saya pribadi masih menggunakan PSU yang sama sejak 8 tahun yang lalu (meski memang kala itu saya membeli yang di kisaran harga Rp 1 jutaan, dari salah satu brand kelas premium, Enermax).

Penutup

Akhirnya, seperti yang saya tuliskan di atas, dari pengalaman saya, satu hal yang lebih wajib disadari oleh para PC gamer, baik yang fokus untuk singleplayer ataupun kompetitif (esports), PC memang butuh waktu dan pengetahuan lebih yang harus dikejar namun bukan berarti harus lebih mahal.

Kebutuhan untuk PC gaming singleplayer dan esports itu juga berbeda jauh. Nyatanya, pemain esports itu sebenarnya tidak butuh segudang fitur grafis paling cantik (selama gamenya masih bisa berjalan di 60fps) namun pemain esports lebih butuh kemenangan (yang lebih bergantung pada koneksi internet kita masing-masing).

Semoga artikel ini berguna bagi kawan-kawan para penggemar ataupun yang ingin fokus ke esports di PC agar lebih bijak dalam memilih mana yang lebih berguna buat aspek kompetitif PC gaming.

Artikel ini merupakan hasil kerjasama antara RevivalTV dan NVIDIA

Mau ikutan giveaway GT 1030?

Caranya gampang!

  1. Like fanpage NVIDIA GeForce Indonesia.
  2. Like fanpage RevivalTV.
  3. Share artikel ini dengan settingan privacy Public.
  4. Bergabung ke grup Facebook GeForce Community Indonesia, dan lakukan posting ke grup tersebut menceritakan “Pengalaman terlucu kamu saat bermain game, lalu sertakan hashtag #RevivalNVIDIA1030.

1 (satu) orang yang beruntung akan dipilih secara acak dan berhak mendapatkan Galax GeForce GT 1030 White EXOC namanya. 1 (satu) orang yang beruntung lainnya, berhak mendapatkan Keyboard Logitech G213. 2 (dua) orang beruntung lainnya lagi berhak mendapatkan 2 hoodie Nvidia.

Periode Giveaway sampai 18 Januari 2018.

19 Januari 2018, pengumuman pemenangnya akan disampaikan di channel talkshow dan fanspage Facebook kita.

Written by Yabes Elia

Memulai petualangannya di industri media sejak Desember 2008 saat bergabung dengan majalah T3 Indonesia. Pernah juga bermain dan belajar sebagai Managing Editor majalah PC Gamer Indonesia selama 5 tahun.

Follow me: twitter.com/Yabes_Elia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Loading…