in

Mengapa Sebuah Game Bisa Menjadi Esports?

Olahraga elektronik atau esports perlahan mulai diakui oleh orang awam sebagai olahraga resmi layaknya seperti olahraga catur. Memang akhir-akhir ini juga cukup heboh pemberitaan bahwa esports akan menjadi cabang olahraga di pentas Olimipiade, meskipun ada pernyataan yang cukup keras dari presiden komite olimpiade yang menyatakan hanya game yang tidak ada unsur kekerasan yang bakal dipertimbangkan untuk masuk ke olimpiade.

(Baca: Game Kekerasan Seperti Dota2 dan CS:GO Tidak Akan Pernah Masuk ke Olimpiade, Menurut Presiden Komite Olimpiade)

Meskipun begitu, setidaknya kata esports sudah mulai dikenal oleh orang-orang awam sampai bisa untuk dipertimbangkan masuk ke Olimpiade. Nah sembari menunggu lanjutan Olimpiade,  sobat Revival TV pasti pernah bertanya-tanya mengapa suatu game bisa dinobatkan menjadi cabang esports? Bagaimana game yang sebelumnya hanya untuk bermain multiplayer seru-seruan kini berubah menjadi kompetisi yang melibatkan tim-tim profesional, analyst, panelist serta total hadiah hingga jutaan dolar.

Hmmm, penasaran yah… Berikut ini jawabannya:

1. Kompetitif

Esports secara umum, adalah tentang player berkompetisi satu sama lain. Itu sebabnya kita melihat tim dari berbagai penjuru dunia saling bertanding untuk membuktikan siapa yang terbaik. Sehingga sebuah game tidak bisa disebut esports kalau tidak punya unsur kompetisi.

Itu sebabnya Minecraft tidak bisa jadi cabang esport guys, padahal game ini sangat populer. Game esports mewajibkan salah satu tim keluar sebagai pemenang ketika match berakhir. Intinya harus ada sisi kompetitifnya dimana ada tim yang menang dan ada tim yang kalah.

2. Komunitas Player yang Besar

Esports tidak mungkin berjalan tanpa hadirnya komunitas player yang besar. Komunitas inilah yang nantinya secara rutin menonton livestream di Twitch, mendukung konten, hadir memeriahkan event, turut berperan mengendalikan permainan kedepannya.

Ada beberapa game yang sebenarnya potensial untuk dijadikan esports karena cukup kompetitif, tapi sedikit peminatnya, contohnya Hawken. Game ini membutuhkan skill yg tinggi dan sangat kompetitif, namun kurangnya peminat gagal mengantarkan game ini ke panggung esports, alhasil si pengembang game harus mengalami kebangkrutan.

Acara Mobile Legends Southeast Asia Cup (MSC) 2017 di Mall Taman Anggrek Jakarta.

Sedangkan ketika game mobile seperti Mobile Legends: Bang Bang masuk ke ranah kompetitif esports, banyak yang menganggap itu hanya mimpi di siang bolong, bagaimana bisa game mobile ingin menjadi game esports seperti Dota2, CS:GO, Overwatch? Yah, disini komunitas yang besar membuktikannya, dengan jumlah player yang masif, Mobile Legends berhasil membawa turnamen level Asia Tenggara  MSC 2017 di malll Taman Anggrek barusan dengan jumlah penonton di tempat dikabarkan sekitar 30ribu dan hadiah prizepool yang luar biasa besar.

3. Mudah Dipelajari Namun Susah Dikuasai

Yang paling diperhatikan oleh pengembang game esports adalah mudah atau tidaknya sebuah game  untuk dipelajari. Berbagai tutorial pasti disajikan didalam game untuk membuat player memahami mekanisme yang ada. Apabila game tersebut terlalu sulit untuk dipelajari, tentunya akan memusingkan player. Akibatnya membuat player tidak berminat memainkan game itu, sekaligus menutup kemungkinan game itu berada di kancah esports.

Dota 2 adalah contoh game MOBA yang memiliki kriteria ini, dasar-dasarnya mudah untuk dipelajari, tapi menguasainya? tidak mudah. Ribuan jam dihabiskan oleh pro player untuk bisa memainkan hero dengan baik. Menjadikan game ini merupakan salah satu yang paling kompetitif di kancah esports dunia.

4. Pendanaan yang Baik

Gabe Logan Newell atau dikenal dengan sebutan Lord Gaben, presiden dari Valve corporation pencipta game Dota 2.

Sebuah game esports dapat menghasilkan banyak uang, dilain sisi juga membutuhkan banyak uang untuk biaya pemeliharaannya dan pengembangan. Mereka perlu menggaji caster, teknisi video, sound, jurnalis, staff tambahan, sewa venue, dan tentunya menyediakan uang hadiah untuk pemenang kompetisi. Itu sebabnya Blizzard dan Valve jadi teladan bagi kita penikmat esports, karena mereka mendanai gamenya dengan baik. Ini akan menentukan berapa lama game tersebut akan bertahan.

5. Adanya Mode Spectator

Dota 2, penonton menyaksikan layar spectator ketika pertandingan sedang berlangsung.

Mungkin ini terdengar sepele, tapi ternyata sangat penting dimiliki oleh game esports. Penikmat esports tentunya pastinya akan menonton pertandingan profesional, dan sepanjang match berlangsung penonton membutuhkan sudut pandang yang leluasa. Sehingga perlu disajikan mode spectator yang membuat penonton seakan-akan ikut serta di dalam match yang sedang berlangsung. Contohnya di Dota 2 kita bisa melihat map secara penuh dan  dimana posisi hero berada. Data yang akurat seperti gold, experience, inventory  tiap player juga ditampilkan dalam mode ini.

Mungkin masih ada banyak faktor yang menentukan sebuah game bisa menjadi esports atau tidak. Namun lima kriteria diatas sudah pasti harus dimiliki oleh game-game esports yang sukses seperti  CS:GO, LoL, dan Dota 2. Semoga dengan tulisan ini kalian jadi lebih paham kenapa game yang kalian mainkan belum jadi cabang esports ya guys.