in , ,

Revival’s Special: Antara Sekolah dan Esports dari Sudut Pandang 3 Pemain Aerowolf

Banyak paradigma dari kaum awam yang mengatakan bahwa bermain game itu tidak dapat sejalan dengan tanggung jawab akademis, A.K.A. sekolah. Namun apakah benar demikian?

Untuk menjawab pertanyaan ini, kami pun berbincang-bincang dengan 3 anggota salah satu tim gaming profesional yang ketiganya juga masih berstatus pelajar: Aerowolf.

Kawan-kawan bisa membaca hasil obrolan kami dengan Aerowolf tentang profil mereka di artikel yang kami tuliskan sebelumnya untuk cari tahu lebih jauh tentang latar belakang tim dan beberapa pemainnya.

Tiga pemain yang akan jadi narasumber kami kali ini adalah Jason “f0rsakeN” Susanto, Jose “Histoire” Iman, dan Anlika “LurkZz” Putra Wahyoedi dari Aerowolf. Saat artikel ini ditulis, Jason sendiri malah masih berusia 13 tahun dan masih duduk di bangku SMP. Sedangkan Jose dan Anlika, masih duduk di bangku SMA.

Bagaimana caranya bagi waktu antara sekolah dan tanggung jawab sebagai pemain profesional?

Anlika “LurkZz” Putra Wahyoedi

Anlika bercerita, “masing-masing kan pasti beda-beda tanggung jawabnya. Kalau misalnya gua, gua dituntut sekolah ga ditinggalin, nilai masih bagus, baru boleh ngelanjutin (bermain) CS ini,” saat kami tanyakan bagaimana caranya membagi waktu.

“Jadi gua usahain sebisa mungkin di kelas dengerin pelajaran jadi gua ga harus kejar materi saat di rumah. Terus, ngerjain tugas nyicil-nyicil jadi gua masih bisa istirahat yang cukup karena stamina itu penting,” lanjut pemain yang masih duduk di kelas 2 SMA ini.

Ia juga mengaku bahwa orang tuanya memberikan aturan bahwa nilainya jangan sampai di bawah KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal).

Jose “Histoire” Iman

Jose di mejanya beserta PC kesayangan

Sedangkan Jose berpendapat bahwa, biasanya, kita akan menunggu sampai hari terakhir deadline sebelum mengerjakan tugas. Padahal, hal tersebut sebenarnya kurang baik karena seharusnya tugas bisa langsung dikerjakan saat kita punya waktu.

Namun demikian, Jose juga jujur mengakui bahwa hal tersebut masih terkadang sulit dilakukan karena, tak jarang, ia masih sulit menahan diri dari godaan bermain CS:GOhehehe

Kami salut melihat kejujuran Jose karena mungkin memang memperbaiki masalah baru bisa dimulai dengan mengakui kekurangannya masing-masing.

Jose juga menambahkan bahwa jika misalnya PR (Pekerjaan Rumah) nya butuh waktu yang lama untuk diselesaikan, ia akan membagi waktu untuk mengerjakan PR tersebut.

“Misalnya satu PR butuh 6 jam. Kerjakan PR selama 2 jam, kemudian istirahat atau latihan. Baru kembali lagi mengerjakan PR tersebut kembali selama 2 jam dan begitu seterusnya sampai PR nya selesai dikerjakan,” ungkap pelajar SMA kelas 1 ini.

Menurutnya, memaksakan mengerjakan tugas yang memakan waktu lama sekaligus itu juga tidak efisien karena ia bisa jadi kelelahan setelahnya dan tidak bisa konsentrasi saat bertanding atau berlatih.

Satu hal yang pasti, menurut Jose, dirinya sudah tidak boleh punya waktu untuk tidur-tiduran atau bengong.

Terakhir, saran dari Jose, waktu istirahat juga harus diatur dengan baik karena waktu istirahat yang kurang akan berakibat buruk untuk sekolah, latihan, ataupun pertandingan.

Jason “f0rsakeN” Susanto

Jason yang sedang berlatih

Jason sendiri punya trik yang berbeda dalam membagi waktunya. Ia selalu menyempatkan diri untuk membaca pelajaran ataupun mengerjakan tugas di sela-sela kesibukannya berlatih dan bertanding.

Misalnya, jika ia punya waktu 1 jam, ia akan membuka kembali buku pelajarannya. Atau, misalnya ia sedang menunggu mencari lawan tanding, ia akan gunakan waktu tersebut untuk mengerjakan tugas. Menurut siswa kelas 2 SMP ini, cara ini cukup efektif untuk dirinya karena nilai akademisnya pun di atas rata-rata.

Bahkan menurut rekan-rekan satu timnya, salah satu guru sekolahnya Jason memujinya, “nilainya bagus, main CS-nya jago…”

Apa yang kalian katakan ke diri sendiri saat menahan godaan bermain game?

Ketiganya sebenarnya punya pendapat yang sama untuk jawaban dari pertanyaan ini.

Anlika saat bertanding untuk World Cyber Arena 2017

Anlika mengatakan bahwa, daripada nantinya dia tidak diperbolehkan bermain gara-gara nilainya jelek, ia lebih baik bersusah-susah dahulu (belajar) agar ia tetap masih terus bisa melanjutkan karirnya sebagai gamer profesional.

Jose menambahkan dan menjelaskan lebih detil tentang penjelasan Anlika tadi. “Mindset sih. Mindset-nya sih harus bener-bener berikan semuanya untuk CS.” Maksudnya, ia menanamkan pola pikir bahwa untuk menjadi seorang juara CS, harus ada sekian requirement alias checklist yang wajib dipenuhi, termasuk nilai akademis yang baik.

Foto: Dokumentasi Aerowolf

“Iya karena sekolahnya perlu untuk CS, jadi ya harus dilakukan. Kalau ga perlu, ya dibuang… hahaha…” Canda Jose.

Sedangkan Jason juga menambahkan untuk melihatnya dari sudut pandang orang tuanya. Ia merasa orang tuanya sudah mendukungnya untuk bisa bermain, jadi ia juga harus bisa membanggakan orang tuanya dengan memberikan yang terbaik.

Jose pun menutupnya dengan pertimbangan masa depan yang harus dipikirkan. “Masak ga punya ijazah SMA? Kuliah itu juga penting buat cari kerja.” Ia juga menambahkan usia produktif pemain CS (atau mungkin pemain esport secara umum) juga sebenarnya singkat, sekitar sampai usia 30an. Belum lagi, menurutnya, scene esports di Indonesia juga masih belum sebaik di luar sana. Jadi, masih belum worth-it untuk meninggalkan sekolah dan kuliah.

Foto: Dokumentasi Aerowolf

Penutup

Akhirnya, kami jujur salut dengan jawaban-jawaban dan pola pikir kawan-kawan dari Aerowolf tadi. Dari mereka, kita bisa sama-sama belajar bahwa sekolah (dan kuliah) itu penting karena hal tersebut harus diperlakukan sebagai requirement yang wajib dipenuhi untuk bisa terus berkarir sebagai gamer profesional.

Selain itu, mereka juga menunjukkan bahwa gamer itu seharusnya menghormati dan menghargai segala jerih payah dan dukungan orang tua. Plus, terakhir, jadi seorang gamer bukan berarti harus berhenti berpikir tentang masa depan dan rencana jangka panjang…

Sukses terus ya buat Jason “f0rsakeN” Susanto, Jose “Histoire” Iman, dan Anlika “LurkZz” Putra Wahyoedi bersama Aerowolf nya, baik dalam hal sekolah ataupun prestasi esports-nya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…