in , ,

[Editor-in-Chief’s Piece] Ketika Usia jadi Berbahaya Bagi Atlit Esports

Bisa jadi, kebanyakan pemain profesional akan mengatakan tantangan terbesar mereka dalam perjalanan kariernya adalah mengasah skill untuk bisa bersaing dengan pemain-pemain terbaik dunia.

Saya pribadi tidak akan menihilkan tantangan tersebut di sini karena saya juga bukan pemain pro yang merasakan tantangan tersebut setiap hari. Namun demikian, di sini, saya ingin membawa satu masalah yang tak kalah penting yang harus dihadapi dan disadari oleh para atlit esports tanah air.

Revival’s Special: Ngobrol Bareng Owljan, Manajer BOOM.ID, tentang Peran Manajer Tim Esports

Masalah tersebut adalah usia produktif dari pemain pro yang tergolong begitu singkat. Karier dengan usia produktif singkat ini tidak banyak ditemukan di karier para pekerja kantoran. Mereka-mereka yang bekerja dengan mengandalkan kemampuan kognitif sepenuhnya justru semakin matang dan semakin berpengalaman seiring perjalanan kariernya. Makin tua, makin jadi, katanya.


Antara Atlit Olahraga Tradisional vs Atlit Esport

Atlit olahraga ‘tradisional’ juga sebenarnya harus berhadapan dengan masalah ini. Namun, uniknya atau sayangnya, usia produktif pemain esports bisa dibilang relatif lebih singkat ketimbang atlit-atlit olahraga yang populer.

Pemain-pemain sepak bola, misalnya, masih banyak yang bertanding di liga nasional atau bahkan internasional di usia 40an. Atlit esports? Saya sendiri belum menemukan ada pemain yang masih bermain di tingkat kompetisi pro yang usianya sampai kepala 4, setidaknya sampai artikel ini ditulis.

ESPN juga pernah membandingkan usia produktif rata-rata antara pemain esports dengan atlit-atlit NFL, NBA, MLB, dan kawan-kawannya di 2017. Hasilnya, usia produktif rata-rata untuk pemain esports memang relatif lebih singkat ketimbang olahraga-olahraga populer di Amerika Serikat.

Source: The Fiscal Time

Ditambah dengan tantangan awal yang saya sebutkan di awal artikel tadi, tantangan buat para pemain pro tanah air tentu jadi semakin berat karena mereka benar-benar punya waktu yang sangat terbatas untuk bisa berada di puncak performanya.

Memang, sama seperti atlit lainnya, atlit esports profesional bisa saja jadi pelatih nantinya ketika sudah kalah refleks dan fisik dengan pemain-pemain yang lebih muda. Namun jumlah pelatih yang dibutuhkan itu berapa banyak?

Satu tim esports bisa mencapai 5-7 orang dengan satu pelatih. Jika hanya satu pemain dari tim tersebut yang bisa meneruskan kariernya sebagai pelatih, bagaimana dengan sisanya?

Sebenarnya, salah satu solusi yang bisa dilakukan untuk para pemain esports yang sekarang masih aktif bertanding dan jadi idola komunitas adalah memanfaatkan spotlight dan exposure yang mereka miliki sekarang untuk mengumpulkan modal fanbase sebanyak mungkin.

Source: The Next Web

Sayangnya, masih banyak sekali pemain pro kita yang tidak menyadari hal ini. Beberapa bulan belakangan ini, kami memang mencoba semakin sering mengundang mereka-mereka yang berkecimpung di esports untuk berbagi cerita ataupun sekedar memberikan komentarnya.

Dari pengalaman saya dan kawan-kawan penulis di RevivalTV, ironisnya, justru para manager atau owner yang lebih mudah untuk diwawancarai. Manager dan owner itu padahal usia produktifnya jauuuuh lebih panjang dari para pemainnya namun justru mereka yang lebih bisa memahami pentingnya exposure dan publikasi di media.

Berhubung saya juga sudah hampir 10 tahun di industri media, saya sendiri bahkan merasakan bahwa mereka-mereka para eksekutif di perusahaan-perusahaan internasional justru lebih terbuka untuk diwawancarai.

Road to Pro: The Battles for Sponsorship – Bagian 2

Mungkin, dari sekitar 100 permintaan wawancara saya ke beberapa kawan-kawan saya yang setingkat manager dari produsen, developer, publisher, atau vendor (misalnya seperti artikel saya tentang sponsorship beberapa bulan silam, yang mengundang perwakilan dari AMD, ASUS, Logitech, dan SteelSeries sebagai narasumber), hanya 5 permintaan yang ditolak.

Saya kira kemudahan akses tersebut disebabkan karena memang mereka-mereka telah menyadari betapa pentingnya publikasi dan exposure media.


Peran Media?

Meski demikian, tentunya tidak fair jika saya hanya melihatnya dari sisi player pro yang mungkin sebenarnya lebih banyak yang malu-malu untuk diwawancarai.

Setidaknya, dari pengamatan saya, media game dan esports pun memang belum berhasil (kalau tidak mau dibilang gagal) dalam menjalani perannya sebagai ruang publikasi massa di industri esports.

Media-media game dan esports (termasuk RevivalTV juga mungkin) tidak / belum berhasil membentuk tradisi dan tren memberi ruang jawab bagi para pelaku industrinya, termasuk para pemain pro.

Jangankan atlit esports di media game ataupun media esports, bahkan atlit olahraga kita yang berhasil berkiprah di kancah internasional pun jarang diekspos.

Entahlah, saya memang jarang sekali melihat TV Indonesia namun sepertinya jarang sekali juga media nasional yang memberikan ruang publik untuk atlit ataupun mantan atlit. Saya pribadi lebih banyak melihat industri media di Amerika Serikat yang cukup baik memberikan ruang-ruang publik untuk para atlitnya.

Atlit-atlit NBA, NFL, ataupun MLB setidaknya sekali dalam sebulan diwawancarai oleh media-media mainstream di acara-acara malam (seperti Late Night Show dan kawan-kawannya).

Saya tahu bahwa kami juga belum sempurna di semua sisi dan masih banyak kekurangan namun tujuan akhir RevivalTV (setidaknya selama saya masih jadi Editor-in-Chief nya wkwkwk) di sini adalah menjadi ruang publik untuk setiap para pelaku esports, baik itu CEO / owner, sponsor, manager, ataupun para pemainnya.


Penutup

5 Hero Mobile Legends Terkuat versi Fabiens Bigetron PK

Akhirnya, kami berharap untuk bisa sering berkolaborasi dengan kawan-kawan pemain pro Indonesia agar mereka mau berbagi cerita, pengalaman, dan expertise-nya. Selain akan sangat berguna untuk pembaca dan kami sebagai media, cerita dan pengalaman tadi bisa jadi sarana exposure buat para player yang bisa dimanfaatkan.

Dengan demikian, cara ini mungkin bisa jadi solusi tambahan agar pemain-pemain kita punya spotlight tambahan selain di ajang kompetitif agar mereka bisa terus eksis dan tak akan terlupakan meski usia produktifnya sebagai pro player nanti telah berakhir.

Written by Yabes Elia

Memulai petualangannya di industri media sejak Desember 2008 saat bergabung dengan majalah T3 Indonesia. Pernah juga bermain dan belajar sebagai Managing Editor majalah PC Gamer Indonesia selama 5 tahun.

Follow me: twitter.com/Yabes_Elia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Loading…