in , , ,

In-Depth: Apakah Bisa Rainbow Six Siege Jadi The Next Esport? – Part 1

Rainbow Six Siege (R6S) merupakan FPS andalan Ubisoft. Dengan masuknya organisasi-organisasi besar seperti FaZe Clan dan Ninjas In Pyjamas, dapatkah R6S berkembang dalam beberapa tahun kedepan sebagai game esports?

Berbeda dengan game esports lain semisal CS:GO, Rainbow Six Siege lebih menitik-beratkan permainannya ke taktik. Artinya, aim bukan faktor terbesar di game ini. Selain taktik, diperlukan map knowledge yang mendalam di 16 map yang disediakan. Selain itu, Ubisoft selaku pengembang tidak memasukan unsur Pay To Win ke dalam game ini.

Namun demikian, hal-hal di atas bisa jadi belum cukup untuk membuatnya naik satu tingkat jadi esports karena butuh aspek-aspek lain seperti kompetisi, banyak tim yang berpartisipasi, dan media atau pihak yang menayangkan kompetisi tersebut.


Esports Scene Rainbow Six: Siege Di Mata Internasional

Rainbow Six: Siege sendiri cukup mendulang sukses untuk game sekelas R6, yang baru diluncurkan Desember tahun 2015 silam. Selain itu, dukungan dari Ubisoft untuk mengembangkan esports di game besutannya sangat besar.

Ubisoft pun telah merencanakan apa yang akan mereka lakukan dalam 2 tahun kedepan, khususnya untuk professional scene. Ubisoft telah merencanakannya dengan matang, dan mencakup semua lapisan pemain untuk dapat bergabung sampai ke tingkat tertinggi Rainbow Six Siege, The Major.

Dengan dukungan Ubisoft untuk mengembangkan esport scene R6S, tentu akan menarik organisasi-organisasi besar yang masuk untuk mendulang untung. Semisal FaZe Clan yang baru-baru ini masuk dan mengaet sebuah tim Brazil R6, dan Ninjas In Pyjamas yang direncanakan akan membuka divisi R6 secepatnya.


Rainbow Six Siege di mata esports Indonesia

Kami mendapat kesempatan untuk berbincang bincang dengan salah satu pengurus dari komunitas Rainbow Six Siege terbesar di Indonesia, Dika “Mark.IV” Nandi. Dika sendiri telah berkecimpung di dunia R6 sejak awal tahun 2016. Dika mengemukakan pendapatnya tentang R6 di Indonesia, khususnya di bagian esports.

Menurut Anda, dapatkah Rainbow Six Siege menyaingi CS:GO, ataupun game FPS lainnya dalam hal fairplay dan spectating experience?

“Menurut opini saya pribadi, ya. R6 bisa. Di spectating experience menurut saya R6 punya keunikan sendiri karena setiap player. Contohnya di laga Pro League di ESL itu masing-masing punya playstyle tersendiri untuk memainkan masing-masing operator yang ada di R6.” Ujar Dika.

“Jadi di setiap roundnya pasti ada suasana baru, bahkan di setiap match pasti ada meta-meta tertentu. Jadi dari waktu ke waktu cara main atau strategi yang dipakai bisa berubah-ubah dan bervariasi dari setiap tim. Bahkan kadang saya kalo nonton teman yang sedang streaming atau liat pro player yang sedang main bisa merasakan pressure atau kepanikan mereka saat melihat dari First Person View mereka.” Tambah Dika.

Untuk regional Indonesia, pernahkah ada organisasi yang serius mengembangkan R6? Dalam konteks ini organisasi yang dilengkapi manajemen, ataupun gaji.

“Kalau di Indonesia untuk organisasi yang “asli” belum ada (yang masuk). Sementara ini baru ada tim-tim independen di Indonesia yang sudah berlaga di ESL”.

Sayapun menanyakan secara detail, achievement apa saja yang pernah Indonesia raih?

“Untuk tim dari Indonesia yang sudah pernah berlaga di ESL Go4R6 meraih Juara 1 tahun 2017. Nama timnya Scrypt Esports.”

Secara keseluruhan, tentu R6 mempunyai poin plus daripada game FPS lainnya, semisal CS:GO. Apa itu?

“Poin plus kenapa R6 punya daya tarik yang berbeda dari game FPS lain itu dari gameplaynya. Setiap tahun ada 4 season. Di setiap season, Ubisoft merilis operator dan map baru. Player harus beradaptasi dengan playstyle yang baru dengan hadirnya operator baru karena setiap operator memiliki loadout dan utility yang unik dan berbeda.”
“Jadi setiap operator memiliki playstyle-nya sendiri dan cara bermainnya. Salah satu daya tariknya juga mendorong tim untuk bermain teamwork dan strategis karena di game ini map knowledge dan informasi sangat dibutuhkan dan merupakan kunci untuk menang.” Ujar Dika.

Apa harapan pribadi Anda untuk esport secara keseluruhan, khususnya di Indonesia?

“Harapannya agar esport R6 di Indonesia di-support oleh tim-tim besar esport yang ada di Indonesia agar lebih maju serta lebih banyak player indonesia yang belaga di Internasional.” Seru Dika Nandi.

Developer + Community Support = Superpower Combination

Kata kata di atas adalah impresi pertama saya saat mempelajari Rainbow Six Siege Pro League. Salah satu pembuktiannya yaitu hadirnya saluran YouTube khusus untuk Rainbow Six Siege Pro League hasil kolaborasi ESL bersama Ubisoft.

Selain itu, walaupun Rainbow Six masih seumur jagung, Ubisoft telah mengeluarkan sebuah film dokumenter sepanjang 23 menit tentang perjalanan esport Rainbow Six Siege sampai saat ini.

Selain dari developer, komunitas juga ikut mendukung esport R6 terus berkembang. Contoh terdekatnya yaitu dari komunitas R6 terbesar di Indonesia, Rainbow Six Siege Indonesia Community.

Para pengurus komunitas tersebut turut andil tangan dalam membesarkan scene R6. Salah satunya yaitu mengadakan turnamen resmi untuk grup tersebut. Hal yang perlu digarisbawahi adalah sebagian prizepool dari turnamen tersebut adalah modal pribadi dari pengurus. Bahkan mereka juga menyediakan hadiah equip gaming untuk MVP turnamen tersebut, yang tentunya melalui modal pribadi mereka sendiri.

Menilik Peluang Audition AyoDance Mobile Berkembang jadi Esports


Kekurangannya atau kesulitannya?

Dengan komplitnya aspek-aspek game esports di R6 seperti fairplay, developer & community support, dan tentu tactical, Rainbow Six memang memiliki semua hal yang dibutuhkan untuk jadi esports. Namun, bagaimana dengan kekurangannya? Berhubung artikel ini sudah terlalu panjang, kita akan bahas kekurangan dan kesulitannya di bagian kedua.

Diedit oleh Yabes Elia

Written by Juandi

Esports News Writer, especially CS:GO.

Business Enq: juandik123@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Loading…