in ,

In-Depth: Apakah Bisa Rainbow Six Siege Jadi The Next Esport? – Part 2

Jika di bagian pertama kita sudah membahas tentang keunggulan dan kelebihan Rainbow Six Siege (R6S) untuk menjadi esports, sekarang kita akan membahas kesulitan atau tantangan yang harus dipertimbangkan.

BACA JUGA: In-Depth: Apakah Bisa Rainbow Six Siege Jadi The Next Esport? – Part 1

Narasumber kita kali ini masih sama dengan yang di bagian pertama, yaitu salah satu pengurus dari komunitas Rainbow Six Siege terbesar di Indonesia, Dika “Mark.IV” Nandi; yang telah berkecimpung di dunia R6S sejak 2016.


Sebelumnya pada Part 1, kita telah membahas bahwa R6S memiliki potensi yang cukup besar untuk menjadi salah satu game esports terlaris di Indonesia, tapi pasti ada faktor yang membuat pertumbuhan R6 belum sebesar Overwatch. Apa penghambat utama R6 tersebut menurut Anda?

“Kenapa Rainbow Six Siege di Indonesia kurang begitu populer? Menurut saya, ada beberapa alasan. Pertama yang mungkin menjadi alasan besar yaitu minimum requirement specs untuk R6S sendiri bisa dibilang agak tinggi, berbeda dengan Overwatch atau CS:GO yang lebih “friendly” untuk soal specs.

Alasan kedua menurut saya yaitu dari segi harga. Rainbow Six Siege sendiri, untuk versi base-nya, menurut saya bisa dibilang cukup mahal untuk dompet gamer di Indonesia. Karena untuk harga satu kopi Rainbow Six Siege mungkin kamu bisa mendapat 2 judul game lain atau lebih di Steam.

Dari pihak Ubisoft sendiri sudah menyediakan versi starter yang harganya lebih terjangkau namun diperlukan waktu yang lebih lama untuk dapat meng-unlock semua operator yang tersedia.

Alasan yang terakhir yaitu Rainbow Six masih kurang populer di Indonesia karena minimnya publikasi. Walaupun player base di Indonesia sendiri terus meningkat, namun masih banyak content creator populer seperti YouTuber atau streamer di Indonesia yang belum menjamah game ini.

Rainbow Six masih kalah pamornya dibandingkan dengan game FPS Shooter yang sedang booming saat ini: PUBG, yang lebih diminati gamers di Indonesia saat ini.”

Dengan kuantitas pemain yang lebih sedikit, khususnya di Indonesia, apakah pernyataan “Game Mahal, Lebih Friendly Community-nya” berlaku di titel Rainbow Six ini? Bagaimana kondisi kualitas pemain R6 di Indonesia dalam komunitas, ataupun di dalam game tersebut?

“Bisa dibilang dengan jumlah player base saat ini, mayoritas player Rainbow Six Siege di Indonesia sangat ramah. Kadang bisa dijumpai beberapa player yang bertemu saat matchmaking di Casual saling menyapa di in-game chat dan bergurau ringan.

Namun pastinya di setiap komunitas gaming tidak terlepas dari yang namanya “toxic behaviour“, tak terkecuali R6S. Ada beberapa player yang sengaja berkata kasar atau memprovokasi tim musuh, melakukan teamkill tanpa alasan yang jelas, hanya untuk alasan “it’s fun” katanya.”

Setelah bermain sejak 2 tahun lalu, dapatkah Anda deskripsikan perkembangan game Rainbow Six Siege ini dari waktu ke waktu?

“Semenjak awal main sampai hari ini, R6S sudah berkembang jauh lebih baik dibanding dengan dulu.

Awal mula R6S itu bisa dibilang banyak bugs, glitch yang gamebreaking, hit registration yang parah dan cheater yang merajalela. Karena sebelum Mid-reinforcement update di Skull Rain, Rainbow Six Siege hanya mengandalkan system report Fairfight yang kurang efektif untuk mendeteksi cheater.

Dari waktu ke waktu, developer Rainbowsix Siege terus melakukan improvement di setiap update season dan mid-reinforcementnya, baik di segi gameplay balancing dan bugfixes. Ubisoft juga selalu mendengarkan feedback dari komunitas untuk terus meningkatkan game ini. Peningkatan yang sangat signifikan adalah pada Operation Blood Orchid di Year 2.

Hampir 75% dari game data ditulis ulang kodenya, pengenalan Alpha Pack, system Matchmaking baru yang lebih cepat, dan masih banyak lagi yang sudah ditingkatkan dari segi teknis. Dedikasi dari developer itulah yang membuat Rainbow Six Siege terus berkembang dari waktu rilis hingga saat ini memasuki Year 3 dan menarik player base yang lebih banyak.

Dari segi esports sendiri banyak organisasi dan pro player yang mulai masuk ke dalam esport R6 Internasional. Bahkan tim esports seperti Evil Geniuses juga mulai berlaga di esport R6. Untuk ke depannya, dari pihak Ubisoft mulai melirik Region Asia yang sebelumnya hanya berpusat di Eropa dan North America.

Untuk META sendiri banyak sekali META yang sudah berkembang. Mayoritas META yang ada berpusat pada tiap operator baru yang dirilis. Contohnya seperti operator Mira dari Operation Velvet Shell, dia membawa pengaruh yang sangat besar dalam perubahan META saat defending objective.”

Dapatkah R6 mendulang pamor berkat program esportnya?

Dengan perkembangan Rainbow Six Siege yang telah Anda deskripsikan sebelumnya, apa yang Anda dapat perkirakan dalam 2 tahun ke depan pada game R6 ini? Apakah dapat menandingi game esports lain sekelas Overwatch dalam konteks playerbase?

“Dari pandangan saya sendiri, untuk dua tahun ke depannya, saat ini player base Rainbow Six Siege sudah mencapai 20 juta lebih unik player. Dalam kurun waktu 2 tahun, sejak game ini pertama kali dirilis dan akan terus berkembang.

Dari pihak Ubisoft sendiri berencana untuk merilis hingga 100 operator (50 Attacker dan 50 Defender), dan terus melanjutkan dukungannya untuk Rainbow Six Siege. (Serta) pastinya akan banyak konten baru dan inovasi lainnya.

Dari segi esport tentunya akan ada banyak tim esport Internasional ternama lainnya yang akan ikut berlaga juga di esport R6. Tentunya tim esport Indonesia juga mulai memasuki dunia esports Rainbow Six Siege. Dan apabila Ubisoft terus mendengarkan feedback dari komunitasnya, Rainbowsix Siege akan terus didukung oleh player-nya.”

“Untuk dua tahun ke depan, dari pandangan saya, Rainbow Six Siege bisa dari segi player base dan esport bisa melebihi game FPS esports lain, contohnya CS:GO dan Overwatch. Karena jumlah player base R6S terus naik dan banyak tim esport internasional yang juga mulai tertarik untuk berlaga di esport R6.” lanjut Dika.


Penutup dan Pendapat Kami

Jika melihat kesulitan dan penghalang tadi, ada 2 hal yang sebenarnya lebih memungkinkan untuk dipecahkan, yaitu soal harga dan soal publikasi. Sedangkan soal spesifikasi yang tinggi, hal ini bisa jadi lebih sulit untuk dicari solusinya karena terkendala masalah teknis.

Namun demikian, persoalan harga dan publikasi (alias marketing) juga bukan soal gampang. Karena pertanyaannya, apakah Ubisoft mau menurunkan harga atau, malah membuatnya jadi gratis tanpa ada batasan waktu, demi menjaring pemain yang lebih banyak. Masalah marketing pun juga sama saja bukan solusi yang murah.

Sedangkan esport-nya, di luar negeri, peluangnya mungkin jauh lebih besar dibanding Indonesia. Kenapa? Karena faktanya, bahkan Valve sendiri yang punya 2 game esports populer di Indonesia (Dota 2 dan CS:GO) belum menggelontorkan banyak dana, baik untuk marketing ataupun turnamen (kebanyakan turnamen CS:GO dan Dota 2 di Indonesia itu disponsori oleh produsen hardware PC).

Masih banyak developer-developer barat yang melihat Indonesia bukan termasuk salah satu pasar yang potensial untuk digarap. Sekarang ini, baru developer (dan publisher) Tiongkok dan Korea Selatan yang lebih mau menggelontorkan banyak modal untuk merebut perhatian gamer kita.

Namun demikian, siapa tahu, bisa saja Ubisoft punya pendapat yang berbeda dari Blizzard ataupun Valve tentang Indonesia. Jika itu yang terjadi, kita baru bisa berharap banyak.

Diedit oleh Yabes Elia

Written by Juandi

Esports News Writer, especially CS:GO.

What do you think?

5 points
Upvote Downvote

Total votes: 5

Upvotes: 5

Upvotes percentage: 100.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…