in

In-Depth: Mengenal 10 Tim dan Sistem Baru NA LCS 2018!

1. Pembagian Pendapatan (Revenue Sharing) 2. Memberikan Perlindungan kepada Players 3. Perubahan Struktur Liga
6 TIM NA LCS
6 Tim NA LCS yang bertahan dari musim lalu : Flyquest, TSM, Echo Fox, Team Liquid, Counter Logic Gaming, Cloud 9.

Setelah 6 tim memastikan bertahan di The North America League of Legends Championship Series (NA LCS), fans North America League of Legends bersiap-siap menyambut kedatangan 4 tim baru yang siap bergabung di kompetisi paling elit League of Legends di Amerika Utara. NA LCS lebih dari sekedar kompetisi, NA LCS adalah region dengan storyline dan sejarah tersendiri, mulai dari dominasi Bjergsen dan TSM, kejutan Cloud9 di Worlds 2017, dan juga Team Liquid yang lolos dari degradasi dan bertahan di kasta teratas.

Franchising

1. Pembagian Pendapatan (Revenue Sharing)
2. Memberikan Perlindungan kepada Players
3. Perubahan Struktur Liga

Satu hal yang menarik adalah keputusan Riot Games untuk menggunakan franchise model untuk North America League Championship Series (NA LCS), Hal ini menjadi salah satu keputusan yang besar untuk perkembangan Esports di tahun 2017-2018. Franchising di esports berarti membuat tim esports menjadi lebih seperti regular sports, dalam hal ini role model (panutan) untuk League Championship Series America adalah National Basketball Association (NBA),National Football League (NFL),dan Major League Baseball (MLB).

2017-2018 adalah tahun Esports dan Traditional Sports banyak bertemu, mulai dari Overwatch League dengan sistem City-based franchise, Franchising di NA LCS, dan berbagai tim sports yang berani berinvestasi dan membuka peluang mereka di Esports.

Satu hal yang pasti, Setiap tim yang berpartisipasi dan mendaftar di NA LCS akan menjadi permanent partner untuk Riot Games. Artinya ada komitmen dari jajaran eksekutif tim yang menjadi owner dari tim untuk menjaga kestabilan roster, ekonomi dan struktur organisasi agar tim mereka bisa bermain hingga 5-10 tahun ke depan. Sistem partnership dan franchising ini mengandalkan revenue dan keuntungan bagi tim-tim bukan hanya dari prize pool namun juga dari aspek-aspek lain.

4 Partner NA LCS
4 Partner terbaru untuk Riot Games, Optic Gaming dan 3 Tim NBA: Golden State Warriors, Cleveland Cavaliers dan Houston Rockets.

Partnership antara investor, team owners dan Riot Games selaku pelaksana kompetisi diharapkan membentuk ekosistem ekonomi yang lebih stabil untuk masa depan liga, terutama future investor (investor masa depan), tim dan pemain.

Menjadikan professional gamer seperti profesi yang mendapatkan pendapatan reguler tanpa peduli prize pool berarti mereka akan tetap berkompetisi menang atau kalah. Namun tentu bentuk reward bagi pemenang adalah mendapatkan gelar dan juga penghasilan yang lebih besar dari bonus.

Masa depan pemain esports diharapkan akan jadi seperti atlit olahraga ‘tradisional’: tak peduli menang atau kalah, mereka HARUS tetap dibayar. Tentu akan ada klausul (ketentuan) kontrak tertentu. Misalnya, mereka yang masuk ke babak playoffs tentu akan mendapatkan bayaran lebih, mereka yang mencetak lebih banyak points, atau kills (dalam LoL) tentu akan mendapatkan bonus berbeda. Hal ini akan menarik untuk diikuti dan membuat lebih banyak pihak memegang komitmen, dengan perjanjian di bawah hukum dan pengawasan pihak eksternal.

League of Legends di NA sendiri sebelumnya mengadopsi sistem promosi degradasi sama seperti Liga Inggris atau Liga Sepakbola Eropa lainnya. Tim yang bermain paling buruk di LCS akan mengalami degradasi ke divisi Challenger atau divisi kasta 2 untuk NA. Dengan sistem baru ini, tim tidak akan mengalami degradasi dan akan tetap berada di dalam LCS.

Photo via Riot Games

Keputusan ini mengundang kontroversial mengingat pentingnya suatu liga yang berjalan kompetitif untuk semua tim. Banyak fans khawatir karena tidak ada konsekuensi bagi tim-tim yang bermain buruk. Namun tim yang bermain tanpa prestasi tentu akan menghadapi hal minus lainnya misalnya jika tim terus-menerus bermain buruk maka fans tentu akan mulai kehilangan semangat untuk mendukung. Dan mungkin, kehilangan fanbase adalah punishment untuk tim yang gagal bermain maksimal, layaknya klub olahraga. Riot Games juga terus-menerus menekankan bahwa bentuk partnership bagi tim-tim ini bersifat permanen menandakan komitmen mereka untuk menjalankan NA LCS hingga beberapa tahun ke depan.

Di liga sepakbola misalnya tim-tim papan tengah seperti Swansea City, Villareal dan Sampdoria mungkin tidak akan mempunyai fans sebanyak tim seperti Chelsea, Real Madrid ataupun Juventus namun mereka tetap mengundang antusiasme tersendiri dari segmen-segmen khusus.

Anda lebih suka Bjergsen? tentu anda akan mendukung TSM. Namun beberapa orang misalnya senang dengan Cloud9 atau Team Liquid yang mempunyai branding kuat meskipun tidak bermain istimewa. Belum lagi adanya tim-tim baru yang tentu membuat fans dan penonton penasaran, broadcast League of Legends memang terkenal friendly untuk pendatang baru, dan mungkin ini akan menjadi salah satu metode Riot Games untuk mendongkrak lagi popularitas dan menambah player base League of Legends di Amerika Utara.

Revenue Sharing

MLB (Baseball), NBA (Basket), NHL (Hockey), NFL (American Football) 4 Liga olahraga Besar di North America. LoL NA LCS bisa dbilang sebisa mungkin akan menerapkan aturan yang sama seperti liga-liga top Amerika Utara lainnya. Revenue Sharing, Partnership System, dan Player Organization sebagai payung hukum untuk pemain.

Sama seperti liga-liga olahraga lain di Amerika Utara yang menggunakan Franchise system, tim tidak bisa dengan seenaknya meninggalkan liga dan mengundurkan diri dari kompetisi,dan akan ada aturan yang ketat, sama seperti NBA,NFL, MLB,MLS maupun NHL.

Sisi baik dari sistem baru LCS ini adalah revenue sharing karena pemasukkan tim bukan hanya dari prize pool. Akan ada lebih banyak hal yang menjadi sumber pemasukkan baik untuk organizer (Riot Games), tim, dan pemain yaitu: merchandisecontent dan advertising; ditambah juga dari hak siar, viewership dan in-game content yang akan dibagi untuk semua tim. Semua tim akan tetap mendapatkan pemasukkan tanpa peduli posisi klasemen mereka.

BACA JUGA: Revival’s Special: The Battle for Sponsorship!

Revenue sharing akan membuat tim besar berkembang dan tim kecil semakin kompetitif, sehingga pada akhirnya liga berjalan secara imbang dan fans akan disuguhkan High Quality Gameplay  karena setiap pemain punya target masing-masing secara kontrak dan tetap bermain maksimal di posisi manapun.

Revenue Sharing berarti 3 pihak akan mendapatkan uang dari jalannya kompetisi: Riot Games selaku penyelenggara, tim sebagai pihak partner (rekanan), dan pemain sebagai inti dari jalannya kompetisi. 32.5% dari total revenue Liga akan diberikan kepada tim. 16.25% dari 32.5% itu akan diberikan kepada seluruh tim secara rata, sedangkan 16.25% sisanya akan diberikan kepada tim yang memimpin klasemen (Juara 1-2-3), tim yang mendapatkan banyak fans dan merchandise sale, dan tim yang mendatangkan banyak viewership.

NA LCS Player Association akan menjadi badan perlindungan seluruh Pemain NA LCS sebagai pekerja untuk NA LCS.

Untuk Players? Gaji minimum mereka menurut Riot Games adalah US$ 75.000 per tahun. Atau sekitar 1 milliar Rupiah per tahun. Selain itu ada bonus dari kontrak, dan juga jatah dari Revenue Sharing sebanyak 35%. Apabila gaji keseluruhan pemain tidak mencapai 35% dari total revenue maka mereka akan mendapatkan seluruh uang tersebut melalui metode distribusi ke setiap pemain dan bonus untuk players dengan performa istimewa.

Sedangkan apabila lebih dari 35% maka akan ada ketentuan hingga 45% dengan players akan mendapatkan uang lebih yang terdistribusi dan menjamin kesejahteraan seluruh pemain. Selain itu ada jaminan kesehatan, dan juga uang pensiun bagi pemain, membuat professional gamer mempunyai jaminan secara finansial.

Riot Games juga membentuk asosiasi pemain yang menjadi perwakilan suara pemain dalam segala bentuk pengambilan keputusan di NA LCS. Player Union atau asosiasi pemain ini akan dipilih oleh seluruh pemain yang bermain di NA LCS. Mirip seperti NBA Player Association dan CBA (Collective Bargaining Agreement) di NBA, karena para pemain akan mendapatkan suara khusus dalam voting perubahan dan pengambilan keputusan di LCS.

Bergabung dengan NA LCS sendiri tidak mudah, Proposal Esports Team Immortals yang sudah bertahun-tahun bermain di NA LCS justru ditolak mentah-mentah karena Riot Games mengindikasikan keuangan Immortals yang kurang meyakinkan. Pasalnya, Immortals juga melakukan pendaftaran ke Overwatch League dan membentuk tim Dota 2 sehingga kestabilan finansial Immortals untuk memegang Franchise NA LCS diragukan. Team Dignitas juga menjadi salah satu tim yang akhirnya mundur dari NA LCS karena tidak mampu memenuhi persyaratan baik dari segi finansial maupun manajerial.

Tim yang baru bergabung menjadi Franchise untuk NA LCS 2018 harus membayar 13 Juta Dollars jika sebelumnya tidak mempunyai tim di NA LCS. Tim yang sebelumnya sudah bermain di NA LCS (hanya) harus membayar 10 juta dollars saja. Sebagai perbandingan untuk membuat Franchise baru di NBA diperlukan dana sebanyak 500 Juta Dollars, stadium sebagai tempat bertanding, dan juga penyediaan Training dan Full Team Facility.

Kita sudah berbicara banyak mengenai biaya pendaftaran NA LCS.

Lalu kemana perginya uang sebanyak itu? Dari guidelines yang diberikan Riot Games, segala biaya pendaftaran NA LCS akan digunakkan untuk starting capital atau modal awal berjalannya franchise dan liga secara keseluruhan. Sebagai catatan, biaya ini juga untuk mengundang lebih banyak investor agar percaya pada masa depan liga esports dengan sistem franchise ini. Selain itu nilai valuasi tim akan bertambah seiring waktu dengan bertambahnya audiens dan revenue sebagai pemasukkan tim.

Kabar baik lainnya bukan hanya organisasi Esports yang memutuskan bergabung menjadi bagian dari NA LCS, namun juga beberapa tim dari olahraga ‘tradisional’, yaitu 3 Tim NBA dan 1 Tim Esports (Optic Gaming) memutuskan untuk bergabung dengan franchise NA LCS.

Sebagai catatan, tim yang sebelumnya pernah bermain di NA LCS diperlukan membayar US$ 10 juta untuk bergabung dengan sistem franchise Riot Games, sementara tim yang belum pernah bergabung harus merogoh kocek 3 juta Dollar ekstra atau US$ 13 Juta untuk bergabung.

4 Tim baru yang akan mengisi NA LCS adalah sebagai berikut :

  1. Golden State Warriors dengan Golden Guardians
  2. Houston Rockets dengan Clutch Gaming
  3. Cleveland Cavaliers 100 Thieves
  4. Optic Gaming

4 Tim ini memberikan aplikasi dan proposal pendaftaran yang menurut Riot Games cukup meyakinkan baik secara planning,financial condition, dan managerial, sehingga mereka diterima untuk bermain di NA LCS.

The Teams & Players

Berikut adalah 10 tim beserta roster mereka, yang akan berlaga di NA LCS mulai 21 Januari 2018 :

Kesimpulan

Model baru franchise akan menjadi tantangan tersendiri untuk diterapkan di esports, dan Riot Games sebagai salah satu publisher Esports terbesar punya keberanian untuk mencoba sistem ini. Hal ini tentunya akan menarik diikuti karena bagaimana sistem ini akan berpengaruh pada gameplay dan juga bagaimana mainstream media menyikapi esports, dari mulai Jadwal NA LCS yang sudah bisa di akses melalui Google Sports, coverage di ESPN dan metode penyiaran baru.

Apakah 2018 dan NA LCS akan membawa hype baru tersendiri?

Sudah punya tim favorit yang siap didukung? Atau justru jadi tertarik belajar League of Legends setelah membaca tulisan ini?

Diedit oleh Yabes Elia

Written by Rudi Hartanto

Dota 2 Analyst, Esports Historian. For Content and Dota 2 discusion feel free to follow on twitter : @therudihartanto

What do you think?

1 point
Upvote Downvote

Total votes: 1

Upvotes: 1

Upvotes percentage: 100.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…