2018-11-03 / Photo: Robert Paul for Blizzard Entertainment
in ,

Belajar dari Kasus Ellie dan Buruknya Iklim Esports Bagi Perempuan

Baru-baru ini kabar kurang baik bagi dunia esports di dunia internasional telah terjadi, khususnya pada game besutan Blizzard yaitu Overwatch.

Salah satu pemain Overwatch yang bernama Ellie memutuskan untuk keluar dari timnya yaitu Second Wind.

Sebagai tim yang merekrut Ellie, Second Wind yang bertanding di liga kelas dua Overwatch Contenders juga tidak ketinggalan meluruskan hal ini dengan sebuah statement resmi.

Masalah Ellie ini muncul karena publik Overwatch merasa ada yang janggal dengan akun yang bernama Ellie yang diyakini menggunakan identitas palsu.

Salah satu media internasional mengatakan bahwa akun Ellie diciptakan oleh Overwatch Ladder bernama Punisher dan membuat akun Ellie sebagai akun smurf.

ellie second wind overwatch
2018-11-03 / Photo: Robert Paul for Blizzard Entertainment

Namun, yang perlu digarisbawahi mengenai masalah Ellie ini adalah permasalahan gender yang dibawa kedalam ranah esports.

Ellie yang saat itu menggunakan identitas sebagai perempuan diragukan oleh publik yang menganggap tidak mungkin seorang perempuan bisa sehebat itu.

Keraguan akan kemampuan seorang pemain perempuan bukanlah suatu hal yang baru dalam ranah esports, baik itu di tingkat internasional ataupun nasional.

Bisa kita lihat sendiri bahwa komentar akan pemain perempuan sangat sentimental dan cenderung menjatuhkan hingga matinya pemain perempuan yang ingin berkembang untuk menjadi profesional.

BACA JUGA: Selamat Berjuang! PG.BarracX Mengikuti PT Dota2 Circuit di Thailand

Pemain perempuan cenderung direndahkan kemampuannya di awal sebelum memperlihatkan permainannya.

Pemain perempuan dianggap sebagai pelengkap untuk ‘mempercantik’ kontestasi dalam ranah esports dan dijadikan komoditas akan parasnya, bukan kemampuannya dan tentu akan berbahaya bagi iklim esports untuk perempuan karena tidak bisa berkembang.

Permasalahan gender ini tentu terjadi juga di Indonesia, padahal Indonesia memiliki salah satu icon female pro player yaitu Monica “Nixia” Carolina.

Salah satu ikon pro player perempuan yaitu Nixia. Sumber: Kincir.com

Nixia adalah satu dari sekian banyak pro player perempuan yang berhasil menepis bahwa kemampuan laki-laki selalu di atas perempuan.

Nixia yang dikenal kemampuannya bermain game First Person Shooter (FPS) ini mempunyai timnya sendiri yang seluruh anggotanya perempuan yaitu NXA Ladies pada tahun 2011.

Tim NXA Ladies yang Dibentuk oleh Nixia. Sumber: duniagames.co.id

Nixia menjadi cerminan akan potensi perempuan dalam bidang esports, hal itu bisa dibuktikan dengan sederet prestasinya dalam esports yang sangat banyak

Daftar prestasi Nixia dan Timnya. Sumber: nixiagamer.com

Tentu hal tersebut harusnya bisa memotivasi para perempuan untuk menjadi pro player dan mendapatkan banyak prestasi untuk menghapus stigma bahwa kemampuan perempuan selalu di bawah laki-laki.

Dan kita harus menjadikan iklim esports lebih sehat tanpa sekat karena esports untuk siapa saja tanpa batasan gender!

Editor: Yubian A. Huda

Written by Rafdi Muhammad 'Shiroky' Habiburrahman

Seorang mahasiswa yang sedang menempuh S1 di Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Brawijaya. Penulis Pemula yang mempunyai cita-cita membawa perubahan di Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0