Sumber: Arena of Valor
in , ,

SMK di Kudus Bawa AoV Jadi Ekstrakulikuler, Perlukah Kurikulum Esports?

Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa perkembangan esports di Indonesia kini berkembang secara pesat, baik dari tingkat prestasi dan bahkan keterbukaan akan esports itu sendiri.

Esports tidak akan bisa berkembang jika tidak didukung oleh para komunitasnya dan tentu juga instansi baik itu swasta maupun instansi pemerintah.

Masih ingatkah dengan turnamen yang diselenggarakan untuk anak-anak SMA/SMK/sederajat tingkat nasional yang bernama High School League 2018 untuk lebih mengedukasi tentang esports.

Gambar terkait
SMA Negeri 7 Bandung Menjuarai cabang Dota 2 High School League 2018. Sumber: GGWP.id

Keterbukaan instansi pendidikan dengan perkembangan esports patut kita ancungi jempol, hal itu juga sesuai dengan apa yang dikatakan Presiden Republik Indonesia saat ini yaitu Joko Widodo.

“Kenapa enggak kita buat jurusan logistik, jurusan megatronika, jurusan animasi, jurusan retail, atau bahkan jurusan esports,” ungkap Joko Widodo pada Selasa, 8 Agustus 2017

Tempo.com

Sekolah pertama yang membuka program esports adalah SMA 1 PSKD Jakarta, program itu dibuka untuk umum pada penerimaan ajaran baru di tahun 2016/2017.

SMA 1 PSKD | Featured
SMA 1 PSKD Jakarta. Sumber: id.techinasia.com

Mengikuti jejak SMA 1 PSKD Jakarta, SMA Bina Bangsa Malang juga ikut menjadi sekolah esports lewat kerjasama dengan Hardcore iCafe Malang di tahun 2017.

SMA Bina Bangsa: Sekolah eSports di Malang
SMA Bina Bangsa Malang. Sumber: kabargames.id

Tidak mau kalah dengan instansi pendidikan SMA, salah satu perguruan tinggi juga ikut membuka program esportsyaitu Universitas Dian Nuswantoro atau yang dikenal dengan Udinus yang berada di Jawa Tengah.

Dalam program tersebut, mahasiswa mendapat pembinaan dari Indonesia e-SPORTS Association (IeSPA) Jawa Tengah, bahkan IeSPA memberikan reward berupa beasiswa jika ingin mendapatkan prestasi dan menjadi profesional.

MANTAP! Program eSports Masuk Kampus Indonesia, Pertama Hadir di Jawa Tengah!
Universitas Dian Nuswantoro. Sumber: duniagames.co.id

Dan di awal tahun 2019 ini, salah satu instansi pendidikan kembali mendukung adanya esports yaitu SMK Raden Umar Said di Kudus dalam bentuk program ekstrakulikuler.

AoV Menjadi Ekstrakulikuler di SMK Raden Umar Said, Kudus. Sumber: kotakgame.com

Dengan begitu, di Indonesia sejauh ini sudah ada 4 instansi pendidikan yang sudah mendukung esports dan memberikan dukungannya terhadap perkembangan esports untuk generasi penerus.

Pada tahun 2018, perkembangan esports di Indonesia memang memasuki puncaknya, hal itu terlihat dari prestasi tim ataupun pemain yang berasal dari Indonesia.

Lalu, menurut sobat Revival, apakah esports perlu dimasukan kedalam kurikulum pendidikan yang baru?

Mengingat tahun 2019 ini kita akan mengadakan pemilihan umum yang akan menentukan masa depan Indonesia.

BACA JUGA: Mengkhawatirkan, Grafik Pemain Aktif Artifact Turun Hingga 95% Sebulan!

Semoga saja, siapapun yang terpilih nanti akan ikut juga memajukan dan menganggap bahwa esports di Indonesia itu penting dan bisa memajukannya dengan pemerintah yang ikut andil.

Editor: Yubian A. Huda

Written by Rafdi Muhammad 'Shiroky' Habiburrahman

Seorang mahasiswa yang sedang menempuh S1 di Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Brawijaya. Penulis Pemula yang mempunyai cita-cita membawa perubahan di Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0