in ,

Road to Pro: The Battles for Sponsorship – Bagian 2

Image Credit: RedBull.com

Artikel ini merupakan bagian kedua dari artikel sebelumnya yang saya tuliskan bulan lalu. Jika sebelumnya, saya menuliskan pandangan saya sebagai salah satu profesional yang sudah berkecimpung di media game sejak tahun 2009, di bagian kedua ini, saya mengumpulkan pendapat dari orang-orang yang mewakili vendor alias sponsor untuk membagikan sudut pandang mereka.

Sebelumnya, mungkin saya perlu jelaskan bahwa pilihan vendor di sini saya acak. Tidak ada vendor / brand yang saya sebut di sini yang membayar untuk artikel ini. Saya hanya membuka-buka kontak rekan-rekan saya yang ada di Whatsapp yang saya anggap punya kepentingan dengan ekosistem esports dalam negeri. Walau memang ada beberapa perwakilan vendor yang menolak memberikan komentarnya.

Tanpa basa-basi lagi, inilah pandangan dari perwakilan 4 brand soal sponsorship tim esports di Indonesia. Keempat brand yang ada di sini adalah AMD, ASUS, Logitech, dan SteelSeries.

Dari keempat brand yang ada di sini, AMD adalah satu-satunya brand yang masih belum punya ‘pasangan’ tim esports dalam negeri (setidaknya sampai artikel ini ditulis). Namun, pengalaman bisnis dan marketing dari perwakilan AMD yang saya hubungi di sini membuat pandangannya soal sponsorship juga layak untuk dipertimbangkan.

Saya kira saya tidak perlu jelaskan lagi tiap-tiap brand. Buat para pembaca setia RevivalTV yang pastinya penggemar esports (khususnya PC) pasti tahu keempat merek besar tadi. Dari obrolan saya dengan masing-masing perwakilan, saya melontarkan sejumlah pertanyaan namun saya akan membagi artikel ini menjadi beberapa pertanyaan krusial agar lebih padat dan tidak terlalu panjang.

Tim seperti apakah yang menarik untuk disponsori oleh brand Anda? Apakah ada patokan tertentu seperti dari sisi prestasi atau eksposure?

AMD eSports Indonesia DoTA 2 Championship. Dokumentasi AMD Indonesia

Armawati Chen, selaku Business Development Manager for Consumer Market untuk AMD Indonesia, mengatakan, “untuk mengukuhkan posisi brand tentunya kita harus make sure kalau tim Esport yang akan kita sponsorin sudah memiliki prestasi yang baik dan ditunjang oleh exposure tim yang bagus” lewat email yang saya terima.

Lanjutnya, “ceritanya kalau kamu pinter tapi ga bisa jual diri bisa jadi Anda hanya stuck di posisi tertentu. Tapi kalau pintar dan bisa menjual diri keluar tentunya ini akan sangat menunjang pengembangan dari tim tersebut dan tentu saja sebagai brand yang mensponsori juga akan mendapatkan nilai plus dari exposure yang dilakukan oleh tim tersebut.”

TEAMnxl> yang didukung oleh ASUS dan SteelSeries. Dokumentasi TEAMnxl>

Sedangkan Reza Afrian Ramadhan, Country Product Marketing ASUS Indonesia, yang saya hubungi melalui Facebook Messenger juga menjelaskan hal yang senada. Menurutnya, “tolak ukur nya bisa banyak sih dan ya sesuai kesepakatan aja. Tapi pastinya, kalau memang sudah berprestasi, terus hubungan dengan fans-nya baik sama ibaratnya banyak yang tau pasti kita akan support secara financial.”

Namun Reza juga mengakui bahwa tidak ada patokan atau tolak ukur pasti, baik dari segi prestasi ataupun exposure.

“Benernya gak ada patokan gimana sih, cuma kalo udah sering juara dan hubungan dengan fans baik atau banyak fans-nya , itu udah pasti kita bisa bicara tentang pendanaan. Jadi selain prestasi, management di team terutama social media dan hubungan dengan fans juga jadi salah satu penilaian kita,” tuturnya.

Female Fighters. Dokumentasi Tech in Asia

Andrew Tobias, Asst. Channel Category Manager – Gaming untuk Logitech Indonesia, yang juga sebelumnya cukup aktif sebagai penggiat esports tanah air, bercerita lewat Facebook Messenger bahwa Logitech G juga melihat prestasi dan exposure dari sebuah tim. Ia juga mengaku bahwa ia memiliki patokan khusus angka follower namun ia tidak bisa mempublikasikan berapa angka persisnya.

“Untuk patokan sendiri, Logitech G cukup simple, kita ukur dari prestasi dan seberapa besar pengaruh tim di komunitas gamenya. Untuk patokan angka khusus follower sejujurnya kita set namun angkanya tidak bisa kita publikasikan,” jelas Andrew.

TP.NND saat jadi juara 1 di Red Bull Coliseum 2 di Malaysia. Dokumentasi TP.NND

Mewakili SteelSeries, Ryan Firstanto sebagai Regional Manager SEA memberikan pendapatnya melalui Whatsapp. Katanya, “tidak ada patokan pasti untuk jumlah followers, kita juga pertimbangkan apakah tim ini potensial dan layak untuk disponsori / di-support untuk berkembang ke level yang lebih tinggi. Sebagai contoh TP.NND, tim ini memang belum memiliki follower tinggi, namun result tim ini cukup baik mereka menjuarai turnamen SEA di Malaysia untuk Dota2 Red Bull Colosseum 2.”

Ryan juga menambahkan ke perihal yang lebih spesifik, yakni tentang apakah tim tersebut dapat merepresentasikan SteelSeries dengan baik.

BACA JUGA: KEMBALI BERSINAR CEMERLANG, THEPRIME.NND LOLOS KE REGIONAL QUALIFIER MDL MACAU!

3 tim yang disponsori ASUS. Dokumentasi Female Fighters

Dari pendapat 4 narasumber kita kali ini, memang hanya satu yang mengaku memiliki patokan standar jumlah follower. Namun demikian, satu hal yang pasti, yang mungkin perlu digarisbawahi adalah setiap bentuk kerjasama atau bisnis itu harus menguntungkan kedua belah pihak.

Dalam obrolan kami, Reza memberikan contoh yang mungkin lebih mudah dipahami, “Anggaplah tim A. Terus tim A juara dunia. Tapi ga ada yg tau nih. Terus getback nya buat ASUS nya apa? Kurang lebih gt sih. Soalnya balik lagi, jatohnya sponsorship, both sides harus dapat advantage. Kalo both (side) ga dapat benefit berarti ada yg ga beres hehee…

Jadi, dari jawaban-jawaban tadi, muncul satu pertanyaan penting yang harus kawan-kawan jawab sebagai tim yang ingin disponsori, “apa yang bisa kalian berikan kepada sponsor sebagai timbal balik untuk dana ataupun produk yang diberikan?

Ini adalah soal bisnis dan kerjasama, bukan hibah, belas kasihan, atau malah dana santunan.

Lanjut ke pertanyaan penting kedua:

Menurut Anda, manakah yang lebih penting, prestasi atau exposure?

Image Credit: BOOM ID

Andrew dari Logitech G yang menggandeng sejumlah tim esports lokal seperti Boom ID (Dota 2 dan CS:GO), GuardianForce (Point Blank), Female Fighters (Point Blank), Elite8 eSports (Vainglory), Pandora eSports (Dota 2), Headhunters (League of Legends), dan Saudara eSports (Arena of Valor) mengatakan, “Prestasi menjadi penting karena dengan adanya prestasi otomatis berbanding lurus dengan jumlah follower yang akan naik secara signifikan.” Ia percaya bahwa prestasi akan berbanding lurus dengan exposure, tapi tidak sebaliknya. Namun ia juga menambahkan, “jadi saya bisa katakan tidak ada yang lebih penting, namun sama-sama penting.”

Sedangkan SteelSeries mungkin memang lebih mengutamakan prestasi ketimbang exposure seperti yang tadi saya kutipkan pernyataan dari Ryan di atas. Walaupun dari 3 tim Indonesia yang disponsori SteelSeries, hanya TP.NND yang memiliki jumlah follower yang terhitung sedikit, hanya sekitar 11 ribu, namun memang punya prestasi yang cemerlang.

Mineski dari Filipina yang juga disponsori oleh SteelSeries. Dokumentasi Mineski

TEAMnxl> memiliki sekitar 72 ribu fans di Facebook dengan segudang prestasi (karena merupakan salah satu organisasi esports tertua di Indonesia yang masih aktif sampai sekarang) dan PowerDanger yang punya fans sekitar 56 ribu (angkanya diambil saat artikel ini ditulis).

Armawati dari AMD mengatakan yang sebaliknya atau mungkin bisa jadi lebih jujur dari sudut pandang bisnis (wkwkwkwk) saat saya tanyakan pertanyaan yang sama, “Saya pribadi memilih exposure.”

AMD eSports Indonesia DoTA 2 Championship. Dokumentasi AMD Indonesia

Ia juga lanjut menjelaskan lebih detil dan menghubungkannya dengan kontrak kerjasama, “Biasanya hal seperti prestasi menurun itu jarang masuk dalam indikator sebuah kontrak perjanjian sponsorship. Tetapi sebuah kontrak tentunya ada masa berlakunya. Nah kalau prestasi menurun tentunya akan menjadi bahan pertimbangan untuk perpanjangan kontrak berikutnya. Sementara kalau exposure biasanya sudah diset dalam sebuah kontrak. Dan jika tim tidak bisa deliver, setiap saat kontrak bisa di review ulang.”

Imbuhnya lagi, “seperti yang sudah saya ungkapkan di atas, misal tiba-tiba prestasi menurun tetapi kualitas exposure bisa tetap dijaga, buat brand itu tetap sebuah nilai positif.”

BACA JUGA: Revival’s Special: Profil Tim Aerowolf

Meski tak gamblang memberikan jawabannya antara exposure atau prestasi, Reza dari ASUS yang memiliki 3 tim (Aerowolf, nxl>, dan Female Fighters) juga menekankan pentingnya exposure meski ia juga menambahkan adanya sejumlah pertimbangan lain yang tak kalah penting.

Background, managementtalent, beserta visi dan misi tim, menurutnya juga harus dipertimbangkan. “Pertimbangan lainnya, ya seperti yg udah disebutin tadi, misi dan visi nya sama dan ke depan kita bisa lihat meyakinkan dan bukan cuma tim yang dibuat asal-asalan, plus di dalamnya sendiri memang sudah ada orang-orang yang berbakat,” ungkap Reza.

Sebelum artikelnya terlalu panjang, ini pertanyaan penting terakhir yang mungkin penting untuk kawan-kawan di sini:

Bagaimana jika ada tim yang ingin minta disponsori? Bentuk sponsor seperti apa yang bisa diberikan?

Ryan dari SteelSeries mengatakan ia terbuka untuk tim-tim yang ingin disponsori. Kawan-kawan bisa menghubungi Official Fan Page SteelSeries / Instagram jika ingin timnya dilirik atau mungkin lebih tepatnya dievaluasi.

Namun Ryan juga mengatakan, “untuk awal pastinya kita hanya support produk. Kemudian nanti pasti akan dievaluasi kembali seiring berjalannya waktu…”

Sedangkan Armawati memberikan jawaban, “Boleh mendekati… tapi tentunya balik lagi harus melihat arahan AMD saat itu apakah sudah ready untuk sponsor sebuah tim E-Sport di lokal”

Di sisi lainnya, Andrew menjawab soal peluang tim yang ingin disponsori dengan, “Bisa saja, coba saja ajukan proposalnya terlebih dahulu, apabila memang dirasa pas untuk membawa naik brand, Logitech G akan sebisa mungkin memfasilitasi produk-produk terbaik yang dapat mendukung kinerja tim.”

Namun ia menolak memberikan komentarnya untuk bentuk dukungan seperti apa yang bisa diberikan.

Sebaliknya, Reza mengatakan seperti yang saya kutip di atas, ASUS bersedia memberikan dukungan dalam bentuk pendanaan ataupun produk selama memang dipandang layak. Namun Reza tidak memberikan jawaban tentang kesediaan ASUS untuk menerima pinangan dari tim.

Penutup

image credit: Herald Sun

Itu tadi pandangan dari keempat rekan-rekan saya yang mewakili 4 brand besar yang saya kira jawabannya cukup realistis dari perspektif bisnis. Semoga artikel ini bisa membuka wawasan kawan-kawan semua tentang pentingnya sisi lain tim esports di luar prestasi.

Untuk artikel bagian ketiga nanti, saya akan menghubungi kawan-kawan saya dari tim esports untuk berbagi pandangannya soal sponsor dari perspektif yang berbeda lagi.

Written by Yabes Elia

Memulai petualangannya di industri media sejak Desember 2008 saat bergabung dengan majalah T3 Indonesia. Pernah juga bermain dan belajar sebagai Managing Editor majalah PC Gamer Indonesia selama 5 tahun.

Follow me: twitter.com/Yabes_Elia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Loading…