in , ,

Road to Pro: The Battles for Sponsorship – Bagian 1

Saya kira kawan-kawan pembaca setia RevivalTV tahu betul pentingnya prestasi, skill individu, dan kerjasama tim dalam membangun tim gaming profesional. Namun demikian, ada satu hal lagi yang tak kalah penting yang tak boleh diacuhkan.

Sayangnya, wacana dan obrolan perihal bisnis, sponsor, dan semacamnya seringkali terlewatkan atau bahkan seolah jadi tabu di kalangan sebagian besar gamer atau bahkan kebanyakan orang awam. Padahal, nyatanya, kita semua butuh modal untuk terus bisa bertahan. Tim esports butuh tempat, perangkat, dan waktu untuk berlatih demi menggapai prestasi yang lebih baik dari waktu ke waktu.

Soal tempat dan perangkat, saya rasa saya tak perlu menjelaskan lagi bagaimana dua faktor penting ini berpengaruh dan butuh modal.

Lalu bagaimana dengan waktu? Saya kira semuanya setuju jika saya mengatakan jam terbang itu penting untuk mengasah skill individu ataupun taktik dan kerjasama tim. Jam terbang ini tidak akan pernah maksimal jika para pemainnya juga harus mencari sesuap nasi.

Idealnya, para pemain profesional itu digaji layaknya para pekerja kantoran. Bahkan Michael Jordan, Messi, Ronaldo (baik yang dari Brazil ataupun dari Portugal), LeBron James, Kobe Bryant, dan kawan-kawan lainnya tidak akan pernah bisa bermain cantik saat lapar dan kurang tidur.

Karena itulah, saya menuliskan artikel ini tentang sisi lain, sisi bisnis (dalam hal ini sponsor), dari sebuah tim gaming profesional. Saya akan membagi artikel ini menjadi tiga bagian.

Bagian pertama ini merupakan share pengalaman saya pribadi yang sudah berkecimpung di media game dari tahun 2009 dan bekerja sama dengan salah satu tim gaming profesional asal Indonesia dari tahun 2010.

Bagian keduanya, saya akan menghubungi sejumlah produsen, vendor, atau brand untuk menanyakan apa yang sebenarnya mereka cari dari sebuah tim gamer pro yang membuatnya layak untuk disponsori.

Sedangkan bagian ketiga, saya akan menghubungi beberapa tim esports yang memang sudah memiliki sponsor untuk berbagi pengalamannya.

Exposure FTW!

PBNC 2017 RRQ Endeavour

Inilah sebenarnya hal utama yang dicari oleh kebanyakan, jika tidak mau dibilang semua, sponsor. Meski, tak jarang, mereka tidak mau menyebutkan hal ini saat saya wawancara… hehehe

Exposure itu apa?

Exposure adalah seberapa sering dan luas nama tim kamu terekspos di komunitas ataupun khalayak yang lebih ramai. Bahkan, jujur saja, prestasi tim bahkan bisa kalah nilainya dengan seberapa besar exposure sebuah tim gaming profesional.

Kenapa saya bisa bilang demikian? Karena saya belum pernah mendengar ada tim yang putus kontrak dengan sponsor saat mereka gagal mencapai satu tingkat prestasi tertentu. Prestasi hanya menjadi penting ketika banyak media mengangkat berita dan khalayak ramai membicarakan kemenangan tim tersebut.

Ini dari sudut pandang sponsor menurut saya ya… Tentu saja, media atau tim gaming profesionalnya sendiri bisa jadi punya pandangan yang berbeda dari pentingnya sebuah prestasi.

image credit: G2 Esports

Penting dicatat, jangan melihat sudut pandang yang berbeda itu selalu berarti negatif. Sudut pandang yang berbeda itu malah seringnya memperkaya pengetahuan kita. Demikian juga soal sudut pandang dari berbagai pihak di sebuah ekosistem esports.

Untungnya, di jaman modern sekarang ini, salah satu metode paling mudah untuk memperluas exposure adalah dengan jejaring sosial. Gunakan Facebook, Twitter, Instagram, atau yang lain-lainnya untuk memperluas eksistensi tim.

Metode yang lebih sulit namun biasanya lebih ampuh adalah sebenarnya dengan prestasi itu tadi. Jika tim kamu memenangkan turnamen berskala internasional misalnya, The International (atau mungkin Minor League), turnamen ESL, ELEAGUE, World Championship, kemungkinan besar,  bahkan berita kemenangan tersebut akan diangkat di media-media mainstream sekalipun atau malah media luar negeri.

Namun, ya itu tadi, susahnya minta ampun wkwkwkw… Jadi, sembari tim berlatih menggapai prestasi, gunakan jejaring media sosial untuk sarana alternatifnya.

The Business Guy / Team

Selain media sosial, sebuah tim idealnya memiliki minimal satu orang yang dapat menangani hal-hal di luar prestasi (bukan coach, analyst, atau player).

Di organisasi-organisasi esports besar, macam Fnatic, Astralis, SKT T1, Evi Genius, dan kawan-kawannya, mereka bahkan memiliki satu tim sendiri yang berada di balik layar yang mengurusi hal-hal di luar prestasi (seperti Business Development, Marketing, dkk).

Namun, jangan terlalu muluk-muluk juga jika kita melihat perkembangan industri esports di Indonesia yang memang masih ketinggalan dibanding sejumlah negara-negara lainnya. Pelan-pelan saja bangun organisasinya yang dimulai dengan setidaknya satu orang yang bisa (dan mau) menangani semua hal di luar prestasi.

Mereka-mereka yang ada di balik layar ini bisa bertugas untuk menangani media sosial, mengirimkan press release (atau menjaga komunikasi dengan media), ataupun mencari sponsor (vendor, produsen, atau brand).

Kenapa butuh setidaknya satu orang untuk ini? Karena biarkan para player konsentrasi penuh untuk berlatih. Plus, tugas-tugas yang saya sebutkan tadi juga sebenarnya tidak mudah dan butuh waktu untuk belajar agar lebih efektif dari waktu ke waktu.

Misalnya, orang yang menangani sosial media ini harus tahu bagaimana mencari engagement dan reach yang lebih besar; bersaing dengan tim gaming atau influencer lainnya. Mereka yang mencari sponsor juga harus bisa lebih pintar berbicara dan meyakinkan klien untuk mau investasi.

Percaya saya, pertarungan di balik layar ini juga tidak kalah sengit dibanding pertarungan di atas panggung. Organisasi esport yang sehat benar-benar butuh orang-orang yang bisa memenangkan persaingan di balik layar tersebut.

Penutup

Akhirnya, seperti yang sudah saya tuliskan di atas, kita akan sambung artikel ini ke bagian kedua dan ketiga dari sudut pandang dan narasumber yang berbeda.

Namun setidaknya di bagian pertama ini, saya ingin mengenalkan pada kawan-kawan semua sisi lain yang tidak kalah penting agar sebuah organisasi esport dapat terus bertahan.

Buat yang ingin timnya terus bertahan dan lebih baik dari waktu ke waktu, exposure dan orang-orang di balik layar itu wajib dipikirkan.

Sedangkan buat para fans dan penikmat ajang esport, tak ada salahnya mulai melihat sponsorship (dan postingan-postingan di jejaring sosial yang mungkin bernada iklan) tak lagi sebagai satu hal yang negatif – selama ‘iklan’nya cukup kreatif.

Bagaimanapun juga industri esport tanah air butuh ekosistem yang baik untuk bisa terus berkembang dan sponsor adalah salah satu bagian penting dari ekosistem tersebut.

Written by Yabes Elia

Memulai petualangannya di industri media sejak Desember 2008 saat bergabung dengan majalah T3 Indonesia. Pernah juga bermain dan belajar sebagai Managing Editor majalah PC Gamer Indonesia selama 5 tahun.

Follow me: twitter.com/Yabes_Elia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Loading…