in ,

Revival’s Special: Seberapa Pentingkah Asal Negara Pemain di Satu Tim Esports?

Sebuah tim esports biasanya memerlukan 5 pemain atau lebih untuk mengisi roster tim mereka, baik pemain dari negara yang sama, region yang sama, atau bisa juga campuran dari 5 pemain yang berasal dari negara yang berbeda-beda.

Yang menjadi pertanyaan adalah apakah sebuah tim yang terdiri dari 5 pemain dengan kebangsaan yang sama memiliki sebuah keunggulan yang berbeda? Keunggulan yang tidak dimiliki oleh tim dengan pemain dari negara yang berbeda-beda.

OG Dota 2
Team OG 2017 – Image Courtesy: EPICENTER

Disclaimer

Artikel ini hanya berdasarkan analisis penulis terhadap scene Dota 2 dan Counter-Strike: Global Offensive (akhir 2017), dan keunggulan/keuntungan yang mungkin saja dimiliki oleh tim-tim tertentu dengan pemain yang memiliki kebangsaan yang sama.

Kendala Bahasa

Pertama-tama, mari kita lihat tim papan atas di Dota 2 sekarang. Tim yang sudah tidak diragukan lagi untuk berada di paling atas adalah Team Liquid – apa yang harus dipertanyakan lagi tentang tim ini? Saat penulisan artikel ini, Liquid dengan rosternya pada saat ini sudah memenangkan begitu banyak turnamen, contohnya StarLadder i-League Invitational #2, EPICENTER 2017, DreamLeague Season 7, The International 2017, dan daftarnya-pun berlanjut dengan dimulainya Dota Pro Circuit.

Liquid Dota 2
Team Liquid 2017 – Image Courtesy: Dota 2

Team Liquid sendiri terdiri dari 5 pemain yang berasal dari negara yang berbeda–beda, kapten mereka KuroKy, berasal dari Jerman, Miracle- adalah orang Jordan, MATUMBAMAN adalah orang Finlandia, MinD_ContRoL adalah orang Bulgaria, sementara pemain Support mereka GH adalah orang Lebanon. Meski berbeda, mereka berhasil menjadi salah satu tim terbaik, atau mungkin tim terbaik di ranah Dota 2. Apalagi, pelatih mereka Heen berasal dari Korea Selatan, yang membuat tim ini semakin beragam jika berbicara tentang kebangsaan.

Fnatic 2016
Fnatic Late 2016 – Image Courtesy: @FNATIC

Wajar jika ada yang bertanya tentang cara mereka berkomunikasi sebagai sebuah tim, karena sudah banyak kasus di mana tim-tim esports tidak dapat berjalan dengan baik karena masalah komunikasi.

Sebagai contoh, roster Fnatic pasca TI6, seperti yang ditunjukkan dalam film dokumenter karya Valve, True Sight, Fnatic mengalami masalah dalam bekerja-sama sebagai sebuah tim terutama karena penggunaan istilah in-game yang berbeda dan kendala bahasa di antara para pemainnya, meski mereka mempunyai roster yang dijuluki sebagai “dream team.”

Team Secret Perfect World
Team Secret’s Roster Perfect World 2017 – Image Courtesy: egamersworld.com

Dalam kasus lain, coba ingat roster Team Secret yang lalu pada ajang Perfect World Masters, ketika MidOne mengalami masalah mendadak dan harus digantikan oleh Cty. Hal ini pastinya menantang bagi Cty karena ia harus bermain di tim yang tidak ada satu pemain-pun bisa berbicara bahasa aslinya – Bahasa Mandarin.

Jadi bagaimana caranya hal ini dapat mempengaruhi gameplay Secret saat ajang tersebut? Seperti yang sudah diketahui melalui banyak video dan bukti online, Secret dan Cty harus menggunakan fitur Chat Wheel yang disediakan di klien in-game. Tiap-tiap pesan yang dikirim menggunakan Chat Wheel akan langsung diterjemahkan ke bahasa yang diinginkan secara otomatis.

Cty Stand-in Team Secret, Thanks To Chat Wheel

Fitur ini sangat membantu Secret, dan meskipun ada beberapa kesalahan yang terjadi saat game berlangsung, kinerja mereka masih terorganisir dan masih jauh lebih baik dibanding tim-tim lainnya meski adanya kendala bahasa. Namun tetap saja, performa mereka belum seoptimal mungkin karena Secret dan Cty harus menyesuaikan diri dengan gaya bermain masing-masing dalam jangka waktu hanya beberapa hari sebelum Main Event.

Kembali ke topik tentang Team Liquid, jadi bagaimana Liquid bisa berkomunikasi sebagai sebuah tim dengan roster seperti itu? Jawabannya adalah penggunaan Bahasa Inggris. Tentu saja, beberapa orang mungkin mengatakan bahwa bahasa yang digunakan oleh Fnatic adalah Bahasa Inggris juga, dan mereka tetap saja mengalami masalah komunikasi.

Fnatic True Sight
Fnatic in True Sight

Memang benar Fnatic menggunakan Bahasa Inggris, namun perhatikan, pemain Liquid rata-rata dapat berbicara Bahasa Inggris dengan fasih, terutama karena 3 dari 5 pemain mereka berasal dari Eropa dan hampir semua orang Eropa dapat berbicara Bahasa Inggris.

Sedangkan 2 pemain Liquid lainnya, yakni GH dan Miracle- juga bisa berbahasa Inggris dengan baik meskipun keduanya berasal dari Timur Tengah. Ini sudah terbukti di berbagai video seperti di mana Miracle- ngecast di ajang Summit 4, sementara GH berbicara dengan Bahasa Inggris dalam beberapa wawancara dengan lancar.

Sebagai kontras, Fnatic memiliki kasus yang berbeda dari Liquid. Dari roster mereka sendiri, baik Mushi maupun Ohaiyo biasanya berbicara dalam Bahasa Mandarin, DeMoN jelas menggunakan Bahasa Inggris karena dia orang Amerika, sementara Raven dan eyyou biasanya menggunakan Bahasa Fillipina (Tagalog).

Tim Fnatic menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa utama mereka, namun hanya DeMoN yang biasa menggunakan bahasa tersebut. Oleh karena itu, ke-4 pemain lainnya harus memaksa diri untuk berbicara Bahasa Inggris, atau gameplay mereka pasti akan terganggu dan tidak terkoordinasi.

Namun ingat, kendala bahasa bukanlah satu-satunya faktor yang akhirnya menggagalkan roster Fnatic, perbedaan dalam istilah in-game mereka juga memengaruhi komunikasi. Contohnya DeMoN biasa menggunakan istilah “porting” sedangkan pemain lainnya biasa menyebutnya “TP.”

Virtus.pro 2017
Virtus.pro 2017 – Image Courtesy: EPICENTER

Maka dari itu, sebuah tim harus menggunakan bahasa utama yang nyaman dan mudah digunakan untuk setiap pemainnya. Contohnya, Virtus.pro, tim yang juga merupakan salah satu tim terbaik di Dota 2 menggunakan Bahasa Rusia sebagai bahasa utama mereka, karena setiap pemainnya dapat menggunakan bahasa tersebut secara lancar, walaupun berkebangsaan yang berbeda (Rusia dan Ukraina). Rata-rata orang Ukraina dapat berbicara Bahasa Rusia juga.

Kebanggaan dan Dorongan

Selain tidak memiliki masalah dengan bahasa, roster dengan pemain yang memiliki kebangsaan yang sama juga memiliki manfaat lain, seperti kebanggaan nasional yang dimiliki oleh tim tersebut dan para pemainnya.

Evil Geniuses TI2
Evil Geniuses TI2 – Image Courtesy: pastemagazine.com

Beberapa orang mungkin mengatakan bahwa hal ini hanya membawa dampak yang kecil terhadap kinerja sebuah tim, benar – namun hal ini tidak hanya sekadar memberi “semangat” bagi tim tersebut. Selama bertahun-tahun di ajang The International, berbagai tim membawa bendera negara mereka ke panggung, sebagai bentuk kebanggaan negara yang mereka wakili dan perjuangkan.

Zhou TI2
IG.Zhou TI2 – Image Courtesy: 2p.com

Sebagai contoh, Invictus Gaming dan Evil Geniuses masing-masing membawa bendera China dan Amerika, bahkan memasangnya di dalam booth mereka, yang menunjukkan kebanggaan mereka untuk dapat mewakili negara mereka dan tentunya menunjukkan kepada dunia bahwa para pemain ini sungguh memiliki tekad untuk memperjuangkan negara mereka, sekalipun kemungkinan mereka untuk memenangkan ajang tersebut sangat kecil.

Fanbase dan Support

Selain itu, penonton yang menyaksikan ajang tersebut juga menunjukkan dukungan untuk tim yang mewakili negara mereka, seperti yang terlihat di banyak ajang lama The International. Meskipun masih hanya ada sedikit penonton, tidak seperti TI akhir-akhir ini, banyak dari penggemar contohnya Na`Vi menaikkan bendera Ukraina, penggemar IG mengangkat bendera China, dan penggemar Alliance menaikkan bendera Swedia.

Crowd at TI3 – Image Courtesy: blog.dota2.com

Lagi-lagi mungkin hal ini terlihat membawa dampak yang kecil terhadap kinerja sebuah tim, namun jumlah fanbase di dunia esports sebenarnya bisa mendongkrak popularitas tim itu sendiri.

Baca Juga: Road to Pro: The Battle of Sponsorship – Bagian 1

Jika bukan karena penggemar yang terus memotivasi dan mendukung tim untuk terus berjuang dan bermain, kemungkinan besar mereka tidak akan bertahan lama dan pembubaran sangat mungkin terjadi.

Selanjutnya, brand dan sponsor juga akan mulai mempertimbangkan esports sebagai pilihan yang layak terutama karena meningkatnya jumlah penggemar dan penonton di dalam negeri. Jika kesadaran mereka terhadap esports meningkat, maka akan ada lebih banyak tim yang disponsori dan pertumbuhan esports akan terus berlanjut.

Pemilik Tim Sepak Bola Amerika, Jerry Jones, dan Investor John Goff Mengakuisisi compLexity!

Sebagai bukti, Dallas Cowboys dan investor John Goff mengakuisisi compLexity karena “Pertumbuhan profesional gaming sangat signifikan,” kata Jones – pemilik Dallas Cowboys. Dan compLexity bukanlah satu-satunya tim yang diakuisisi oleh perusahan yang bergerak di luar esports, Team EnVyUs juga mulai bekerja sama dengan Hersh Family Investment, sebuah yayasan berbasis di Dallas.

Jadi, apa hubungannya dengan esports dan kebangsaan? Setelah brand dan sponsor yang sudah mulai masuk, sebuah tim juga harus memiliki governing body untuk esports, seperti yang diminta oleh berbagai entitas politik.

Hal ini sudah diterapkan di negara-negara seperti Korea Selatan, di mana mereka memiliki Korea e-Sports Association (KeSPA) dan yang baru saja didirikan di Jerman, eSport-Bund Deutschland (ESBD). Merekalah yang seharusnya membantu tim-tim esports kecil di negara mereka untuk bertumbuh sebagai sebuah organisasi yang diakui.

Membentuk Tim dari Pemain Berkebangsaan yang Sama

Kadang-kadang untuk membentuk roster yang diisi oleh pemain dengan kebangsaan yang sama mungkin tidak semudah untuk negara tertentu, contohnya Aerowolf – salah satu tim CS:GO tanah air.

aerowolf farewell
Aerwolf Farewell – Image Courtesy: Aerowolf YT

Saat penulisan artikel ini, Aerowolf sedang vakum sejak kepergian acAp, salah satu pemain mereka yang merupakan orang Malaysia. Mereka memutuskan untuk berhenti sejenak dari ranah kompetitif karena mereka belum bisa menemukan pengganti acAp.

Hal ini menunjukkan bahwa terkadang sebuah tim perlu mencari seorang pemain yang datang dari negara lain, agar mereka dapat bermain lebih baik lagi, atau bahkan sampai setingkat dengan tim-tim profesional lainnya.

Tim yang sudah menerapkan ini untuk kedua kalinya adalah TNC. Mereka mengejutkan banyak penggemar Dota 2 awalnya karena mereka berhasil melewati Babak Kualifikasi Asia Tenggara TI6, menjadi tim kedua dari Filipina yang bisa melakukannya setelah Mineski di TI1.

TNC TI6
TNC TI6 Roster – Image Courtesy: @wykrhm

Meskipun ada masalah visa pada awalnya, mereka akhirnya dapat berpartisipasi dalam Main Event, termasuk dengan bantuan Senator Filipina, Bam Aquino. Mereka mengalahkan VG.Reborn dan kemudian melakukan salah satu upset terbesar dalam sejarah Dota – mengalahkan OG, tim yang berhasil menjuarai Major dua kali dan dianggap sebagai tim terkuat pada saat itu.

Mereka bisa dibilang dapat melakukannya dengan bantuan DeMoN, yang mereka rekrut beberapa hari sebelum Babak Kualifikasi TI6. Sebagai kapten yang memiliki sejarah panjang di ranah Dota, ia mampu memimpin pemain Filipina yang lain, sampai akhirnya mereka berhasil melakukan upset tersebut.

Ini menjadi sebuah bukti bahwa terkadang sebuah tim perlu memperoleh pemain yang berpengalaman, seperti DeMoN, sebagai “missing piece” ke roster mereka. Dan coba tebak? Terlepas dari perbedaan kebangsaan mereka, TNC dapat bekerja dengan baik dan bahkan melakukan hal-hal yang tak terduga, sekaligus mengukir nama mereka dalam sejarah Dota.

TNC 2017
TNC 2017 – Image Courtesy: Dota 2

TNC melanjutkan perjalanan mereka setelah semua perombakan roster yang dilakukan, dan sekarang mereka mendapatkan pemain lain yang juga berpengalaman dan bukan orang Filipina, 1437. Sama dengan DeMoN, dia memimpin TNC sebagai kapten dan terbukti efektif bagi performa tim tersebut.

Oleh karena itu terkadang ada perlunya untuk “mengimpor” pemain dari luar negeri, baik negara tetangga seperti yang dilakukan oleh Aerowolf, atau dari negara yang jauh dari negara asalnya, seperti yang dilakukan oleh TNC.

Penutup

Jadi bagaimana menurut kalian? Apakah kalian setuju bahwa untuk memiliki tim dengan satu kebangsan memungkinkan tim tersebut untuk bermain lebih baik? Atau satu atau dua pemain dari luar negeri itu lebih baik selama mereka dapat mendongkrak prestasi?

SK Gaming ESL
SK Gaming at ESL One Cologne 2016 – Image Courtesy: ESL

Apakah masalah bahasa tidak akan berarti jika memang pemain dari asal negara yang berbeda bisa bermain lebih baik dibanding pemain dari negara yang sama? Apakah kebanggaan punya satu tim dari negara yang sama itu sebanding dengan harga yang harus dibayarkan jika hal tersebut berarti menurunnya prestasi – karena terbatasnya roster yang bisa dipilih?

Diedit oleh Yabes Elia

Written by w11wo

Esports & Computers. 24/7 high-school nerd who just loves to play games and write articles, occasionally does interviews too.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…