in , ,

[TI8 Team Profile] OpTiC Gaming di TI8: Pembuktian Strategi dan Eksperimen ppd

Image Courtesy: GosuGamers

OpTiC Gaming datang ke The International 2018 melalui kualifikasi North America (NA). Jalan OpTiC Gaming di qualifier sempat diisi kejutan.

Jika dilihat dari hasil selama Dota Pro Circuit, OpTiC seharusnya dapat dengan mudah mengambil slot NA qualifier karena performa konsisten mereka sepanjang paruh kedua musim ini.

OpTiC memenangkan Starladder Season 5, finish kedua di ESL One Birmingham Major, dan masuk top 6 di Supermajor. Namun secara mengejutkan, rival OpTiC, Evil Geniuses justru dapat lolos dengan rekor lebih baik di babak awal qualifier. OpTiC harus melawan Immortals di akhir NA qualifier sebelum menang dan akhirnya mengamankan slot ke Vancouver.

Gagal Direct Invite Karena Start Lambat.

Greenwall memang tak mampu mengamankan direct invite karena hanya dapat finish di posisi 9 di peringkat akhir Dota Pro circuit. Mereka tertinggal 135 point dari VG.J Thunder.

OpTiC memang start lambat di awal musim 2017-2018, hal ini pun berimbas di akhir musim. Salah satu penyebabnya adalah roster yang tiba-tiba harus pincang di tengah jalan.

Rasmus “MiSeRy” Filipsen memutuskan hengkang dari OpTiC di akhir tahun 2017 karena urusan pribadi. OpTiC pun harus bermain dengan pemain pengganti (standin) di beberapa turnamen.

Dari Batrider hingga offlane Lycan, Neta adalah pemain kunci OpTiC Gaming. Versatility dan kemampuannya bermain efektif di lane membuatnya mampu mengatur tempo permainan.

Kombinasi Pengalaman dan Pendatang Baru

Martin “Saksa” Sazdov dan Kartik “Kitrak” Narthi sempat menjadi standin untuk OpTiC. Awalnya, 2 pemain ini dianggap sebagai calon pengganti MiSeRy namun ternyata kedua pemain ini hanya menjadi standin sementara karena OpTiC tidak ingin terburu-buru.

Saksa dan Kitrak justru dapat bermain baik di OpTiC walaupun mereka hanya pemain pengganti. Hal ini menunjukkan bahwa OpTiC sebenarnya sudah mempunyai playstyle, teamwork dan sistem yang baik dan hanya membutuhkan satu pemain kunci agar sukses.

Pilihan OpTiC pun jatuh pada Neta “33” Saphira, mantan offlaner untuk Planet Dog / Hellraisers yang bermain di The International 2017. 33 bukanlah pemain bintang dan namanya kurang populer, meskipun sempat sukses bersama Planet Dog.

Dipilihnya 33 mengejutkan banyak pihak karena OpTiC digosipkan dekat dengan beberapa pemain bintang seperti FoReV, KheZu, dan Universe. Tak disangka, Neta “33” Saphira menjadi titik balik bagi OpTiC.

Ppd adalah pemain yang tidak pernah ragu mencoba talenta baru dan bereksperimen. Sukses OpTiC bersama pemain baru ini menunjukkan ppd sekali lagi sukses dalam eksperimennya. 

Rasanya fans Evil Geniuses akan ingat bagaimana ppd membawa Mason untuk menggantikan Fear di The International 2014.

Kala itu semua orang meragukan EG yang pincang tanpa carry andalannya. Namun nyatanya di TI 4, ppd tetap bisa membuat draft yang matang dan membuat EG bisa finis top 3 di TI 4 meskipun tanpa Fear.

Mason dan SumaiL menjadi 2 pemain yang sukses bersama EG di bawah kepemimpinan ppd.

Kiprah sukses eksperimen PPD di The International 2015 juga tidak mungkin terlupakan.

Kala itu Evil Geniuses juga kehilangan pemain kunci mereka. Terlebih lagi, di 2015 squad ppd bukan hanya kehilangan 1 pemain tapi 2 pemain sekaligus. 

Arteezy dan Zai memutuskan meninggalkan Evil Geniuses di pertengahan musim 2014-2015. Semua orang yakin EG akan kembali menjadi tim tier 2 pasca lepasnya 2 pemain andalan mereka.

Zai digantikan oleh Aui_2000 karena kebetulan Aui menjadi free agent pasca lepas dari Cloud9. Namun EG masih kebingungan mencari pengganti arteezy di midlane.

Bukan Peter Dager rasanya jika tidak punya ide cerdik nan unik. Ppd dan EG kala itu justru punya usulan yang “out of the box” dengan memilih Sumail “SumaiL” Syed Hassan

Bocah 15 tahun yang baru pindah ke Amerika ini merupakan pemain tanpa pengalaman kompetisi. Kala itu, ia hanya dikenal karena bermain di In-House League dan belum pernah mengikuti Tournament LAN sama sekali.

Pertaruhan yang dilakukan ppd berbuah begitu manis. Dota 2 Asian Championship 2015 menjadi trofi pertama SumaiL di esports. SumaiL pun menjadi bintang baru dengan gaya bermainnya yang sangat khas.

Strategi ppd pun sukses karena membuat SumaiL dapat menunjukkan kemampuan terbaiknya dan bahkan menutup musim dengan menjuarai The International 2015.

The International 2018: Ajang pembuktian CCnC dan 33

Sekarang OpTiC mempunyai 2 pemain yang dianggap sebagai calon bintang baru: CCnC dan 33.

33 memang menjadi pemain kunci untuk OpTiC saat ini. 33 adalah penentu tempo permainan bagi mereka. Broodmother, Visage, Lycan, dan Necrophos menjadi hero-hero kunci 33 sekarang. Belum lagi, ia juga punya berbagai hero andalannya di masa lalu seperti Dark Seer, Clockwerk, Batrider, dan Nature Prophet.

Ppd sekali lagi meramu draft yang membuat 33 dapat bermain nyaman di laning stage: mendapatkan start bagus dan selalu mendikte tempo permainan, mirip dengan SumaiL di TI 5.

Perbedaan antara 33 dengan SumaiL adalah SumaiL biasanya bermain flashy spellcaster seperti QoP, Ember Spirit, Storm Spirit, dan Lina. Namun untuk 33, OpTiC Gaming dan ppd memberikan 33 lane dominator dan pushing hero seperti Visage, Broodmother, Necrophos, Beastmaster dan masih banyak lagi.

Di sisi lain, CCnC gagal di babak final NA Qualifier The International 2017. Namun kegagalan ini justru menjadi batu loncatan untuk CCnC.

CCnC dianggap akan menjadi bintang midlaner baru dari North America. Meskipun timnya gagal bermain maksimal kala itu, CCnC tetap menjadi salah satu midlaner yang paling stabil dan bersinar.

CCnC tetap dikenal dengan signature hero-nya seperti Templar Assasin dan Lina (hero-hero mid yang dapat senantiasa relevan hingga late game). CCnC pun datang ke TI pertamanya musim ini dengan berbagai ekspektasi. 

CCnC (Kiri) dan 33. 33 dan CCnC menjadi motor muda dari OpTiC. CCnC siap membuktikan diri di The International 2018. (picture by Perfect World/PGL)

Pemain dan tim debutan biasanya dapat membawa unsur kejutan tersendiri. Di The International, sejarah membuktikan bahwa pemain baru dapat sukses di turnamen terbesar ini. Di TI 7, Gh menjadi bintang baru, SumaiL pendatang baru lalu juara di TI 5, sedangkan di TI 6, ada 2 tim debutan yakni Wings Gaming dan Digital Chaos yang sukses masuk final. CCnC mungkin bisa saja menjadi nama selanjutnya.

Jika 33 bersama dengan CCnC akan menjadi motor utama OpTiC, Pajkatt adalah salah satu carry yang dapat beradaptasi dengan perubahan META (khususnya di META carry yang tidak selalu farming secara konstan). Karena itu, OpTiC seringkali memberikan hero yang tidak butuh banyak farm untuk Pajkatt jika CCnC bermain mid yang butuh banyak farm seperti Templar Assassin.

Daftar hero-hero terakhir yang dipakai 33.

Kombinasi unik antara pendatang baru dan veteran membuat OpTiC Dota berpotensi menjadi tim kejutan. Pengalaman dari pemain senior dan ide baru dari pemain muda membuat lineup ini mempunyai berbagai variasi dalam strategi mereka.

Hal ini semakin terlihat meyakinkan di tangan drafter berpengalaman yang juga juara The International 2015: Peter “ppd” Dager; apalagi sekarang mereka punya pemain sangat versatile seperti Ludwig “Zai” Wahlberg dan Neta “33” Saphira membuat strategi mereka lebih terbuka dibanding tim lain.

Di TI 4 misalnya, Zai pernah bermain support Ursa dan mendapatkan Roshan di  2 menit 30 detik!

Support Duo Siap Mengulang Sukses

Zai dan ppd adalah kunci sukses OpTiC di laning stage. Ppd memang bukanlah player dengan mechanical skill yang tinggi, namun ppd adalah salah satu kapten paling jenius di sepanjang sejarah Dota 2. Jika ada daftar untuk kapten Dota 2 terbaik sepanjang masa, ppd harus ada di list ini, bersama Xiao8, Kuroky Fly, dan Puppey.Sepanjang pengalamannya bermain di The International sejak 2014, PPD tidak pernah finish di luar Top 3. Dan tahun ini, Peter Dager kembali pasca absen di TI 7.

Zai juga bermain dengan baik di TI4 dan TI 6. Performa mengecewakannya di TI 5 dapat dilupakkan mengingat bagaimana sepanjang musim 2016-2017 Zai bersinar kembali bersama EG.

ppd dan Zai sudah bermain bersama sejak masa keemasan Heroes of Newerth. Transisi keduanya ke Dota 2 membuahkan hasil dengan finish ketiga di The International 2014.

Meskipun ia gagal lagi di TI 7, Uniknya Zai selalu bersinar di TI saat bermain bersama ppd. Sinergi keduanya sudah tidak diragukan lagi. Duo support dengan Zai yang bermain greedy support dan ppd yang bermain sacrifical support mampu memberikan dampak besar meski hanya bermodalkan brown boots magic wand dan ward.

Di tengah META hard dual lane dan hard support, rasanya tandem Zai dan ppd akan mempunyai kesempatan untuk bersinar.

Tahun lalu Eartshaker, Sven, dan Lich adalah hero yang tiba-tiba muncul dan laris dipilihTahun ini mungkin beberapa tim akan menyimpan strategi terbaik mereka sebelum The International.

OpTiC memang finis mengecewakan di Summit 9 beberapa hari yang lalu, namun beberapa hari ke depan OpTiC akan memulai Bootcamp mereka dan membangun momentum jelang TI.


OpTic Gaming lolos ke The International 8. Source: Wyk

Sukses bagi OpTiC berarti sukses bagi salah satu fanbase terbaik di esports. Greenwall dikenal sebagai salah satu fans yang akan menonton berbagai game berbeda demi mendukung OpTiC.

Umumnya para fans ini berasal dari game Call of Duty, namun loyalitas mereka terhadap brand OpTiC membuat para fans ini mempelajari berbagai game esports. OpTiC adalah salah satu organisasi yang unik karena fanbase mereka tidak peduli terhadap genre dan jenis game. Apapun gamenya, Greenwall akan selalu mendukung.

OpTiC dapat dengan mudah mendapatkan Top 5 di TI jika melihat hasil musim ini dan rekor baik mereka melawan tim dari China dan South-East Asia. Namun konsistensi mereka masih diragukan karena ketergantungan mereka terhadap 33 akan menjadi beban tersendiri.

Akankah ppd kembali masuk Top 3 The International di TI keempatnya? mampukah 33 dan CCnC membuktikan diri? Pertanyaan ini akan segera terjawab di Vancouver. Are you ready #Greenwall?

Diedit oleh Yabes Elia

Written by Rudi Hartanto

Providing fresh insights and unique perspective in my piece(s).
Esports Historian. For discusion feel free to follow on twitter : @therudihartanto.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Loading…