in

Kenapa Para Pelatih Esports Kembali Bertanding Sebagai Pemain?

Image Courtesy: evilgeniuses.gg

Sama seperti tim-tim olahraga pada umumnya, sebuah tim esports juga memiliki seorang pelatih (coach). Biasanya, sebuah organisasi akan merekrut seorang yang lebih berpengalaman untuk menjadi pelatih bagi pemain-pemain yang masih baru di ranah kompetitif.

Special Feature: Membedah Pentingnya Coach di Dota 2

Namun, hal yang sering terjadi di dunia kompetitif Dota 2 adalah para pelatih tadi pada akhirnya memutuskan untuk kembali sebagai pemain (player), bukan sebagai pelatih. Mereka yang melakukan hal ini termasuk nama-nama besar seperti Fear, Papita, 1437, Aui_2000, dan masih banyak lagi.

Saya berkesempatan untuk menanyakan beberapa pertanyaan kepada Fear dan Papita mengenai hal ini, langsung saat media session di GESC Indonesia Minor kemarin.

Mengapa Anda akhirnya memutuskan untuk meninggalkan posisi pelatih dan kembali menjadi pemain untuk Evil Geniuses (EG)?

“Itu cerita yang panjang sebenarnya, setelah The International 2017, mereka (pihak Evil Geniuses) mengajak saya untuk bermain lagi, sebagai pemain di roster utama mereka. Saya masih ingin bermain dan tawaran tersebut susah untuk ditolak. Alhasil saya pun kembali ke posisi pemain.”

eg gesc
Dokumentasi: Dian Pratama / RevivaLTV

Fear sendiri sudah lama berada di ranah kompetitif, dimulai dari tim Dota 2 pertamanya, Online Kingdom yang sempat lolos ke ajang The International pertama pada tahun 2011. Sejak meninggalkan tim Online Kingdom, ia bergabung dengan EG dan tetap menjadi anggota dari organisasi tersebut sampai hari ini.

Pada tahun 2014, ia juga sempat menjadi pelatih namun hal itu terpaksa dilakukan karena kondisi kesehatannya saat itu tidak memungkinkannya untuk bermain. Lantas, setelah ia sembuh, ia pun kembali ke roster utama EG.

Jawaban yang diucapkan oleh Fear membuat saya berpikir, apakah alasan yang diberikannya juga sama dengan alasan para pelatih lainnya yang akhirnya kembali ke posisi pemain – contohnya Papita.

Rekan satu tim saya, Jane Edgina, menanyakan pertanyaan di bawah ini kepada Papita yang juga pada media session GESC Indonesia Minor kemarin:

Sebelum kembali sebagai pemain untuk Infamous, Anda adalah pelatih mereka. Apa yang membuat Anda memutuskan untuk kembali sebagai pemain?

“Saya ditawarkan untuk menjadi pelatih untuk Infamous beberapa hari sebelum The International 2017, dan saya mengatakan kepada mereka (pihak Infamous), bahwa saya hanya akan menjadi pelatih untuk TI7 saja, setelah itu saya akan menjadi pemain.”

infamous gesc
Dokumentasi: Dian Pratama / RevivaLTV

“Infamous pada TI7 memilih Kingteka sebagai drafter, maka mereka merekrut saya untuk melatihnya. Pihak Infamous pun setuju dan setelah TI7 selesai, saya kembali sebagai pemain karena saya sendiri memang masih ingin bermain, tidak hanya menjadi seorang pelatih,” lanjutnya.

Dan ternyata tebakan saya benar, sama seperti Fear, keinginan dan passion untuk menjadi pemain utama lagi dari Papita adalah alasannya untuk meninggalkan posisi pelatih.

7ckingmad og
Image Courtesy: CybBet

Maka dari situlah saya mulai yakin bahwa para pelatih dari berbagai tim esports sebenarnya masih sangat ingin bermain, namun mungkin karena satu dan lain hal mereka menjadi seorang pelatih dan bukan pemain.

Alasannya mungkin beragam, entah itu karena usia, kondisi yang tidak memungkinkan, atau memang alasan mereka pribadi. Tetapi yang pasti, seorang pelatih sangat berdampak bagi sebuah tim esports, layaknya sebuah tim olahraga.

[Editor-in-Chief’s Piece] Ketika Usia jadi Berbahaya Bagi Atlit Esports

Sebagai penutup, ada salah seorang pemain asal Korea Selatan yang baru saja menyelesaikan program wajib militernya dan akhirnya bisa bermain secara kompetitif lagi, namun hanya sebagai pelatih untuk tim Echo.International, siapakah dia?

Diedit oleh Yabes Elia

Written by Wilson Wong

Esports Enthusiast & Computer Nerd. Turning my thoughts into stories. Self-taught Programmer.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Loading…