in , ,

Mengenal DotA 1 Gods: Ben “Merlini” Wu

Dota adalah salah satu esports yang mempunyai storyline yang cukup panjang, bukan hanya karena sejarah dari gamenya sendiri namun juga dari para pemain yang terlibat.

Dibandingkan dengan esports lain, Dota mungkin menjangkau yang lebih beragam. Segala benua, segala latar belakang player, pemain dari berbeda negara yang bergabung dalam 1 tim, dan masih banyak lagi.

DotA 1 menjadi esports yang unik karena setiap region mempunyai style mereka masing-masing. Mulai dari Singapore Dota Community, Chinese Dota yang muncul dengan strategi farm-all-day dan 4-protect-1, atau Filipina yang mengenalkan trend bottle-crow (mengisi bottle dari fountain dengan courier), agresi non-stop dari CIS scene atau triple stun trilane dari North America.

Namun dalam legenda Chinese Dota ada beberapa pro players yang dianggap sebagai “Gods” atau “Dewa”. Para pemain ini dikenal sebagai yang terbaik di era DoTA 1. Chinese scene menjadi tempat Dota esports berkembang dan menjadi sangat besar karena banyaknya audience dan skill level yang sangat tinggi.

Beberapa nama yang dianggap sebagai 5 nama terbaik menurut Chinese Scene di zaman DotA 1 adalah :

  1. M-God : Ben “Merlini” Wu
  2. L-God : Jonathan “Loda” Berg
  3. V-God : Ivan “Vigoss” Shinkarev
  4. Y-God : Ng Wei “Yamateh” Poong
  5. B-God : Xu “BurNIng” Zhilei

Kali ini akan kita buka dengan sosok yang familiar di English Stream, mantan Pro Players ini terakhir bermain secara serius untuk Team Zephyr. Namun sekarang ia lebih sering menjadi co-commentator atau panelist, M-Dog, Ben “Merlini” Wu !

Merlini sudah bermain Dota sejak awal masa Warcraft III mod, sekitar tahun 2004-2005. Merlini yang memang sebelumnya sudah menguasai Warcraft III dapat melakukan transisi ke DotA dengan cepat dan mulus.

Merlini, Demon, dan Fear merupakan 3 sosok yang membesarkan North American Dota. Merlini bermain kompetitif sejak 2006 dan terkenal di In-House League North America sebagai salah satu pemain dengan laning skill yang sangat luar biasa di DotA 1. Merlini dikenal sebagai salah satu pemain yang dapat mendominasi lane bila tidak mendapat pressure.

Skill solo mid merlini yang membuat ia muncul sebagai bintang dari North America. Talenta Merlini dalam memainkan creep agro, last hitting, denying dan harassing membuat banyak pemain seringkali harus kalah bukan hanya dalam jumlah last hit dan deny, namun level dan akhirnya kills.

Pada masa itu, deny creep membuat musuh tidak mendapatkan experience sama sekali, dibandingkan dengan masa sekarang dimana denying creep tetap memberikan 70% XP kepada musuh. Passive gold pada masa itu juga hanyalah 1gold/detik, maka laning stage menjadi hal krusial untuk mendapatkan farm di early game.

Tango yang hanya memiliki 2 Charge dan Healing Salves yang sangat tidak populer membuat kalah di lane menjadi begitu fatal. Namun Merlini adalah pemain yang selalu menang di lane, tanpa peduli matchup yang dihadapi.

Selain Merlini adalah bintang mid-lane pada masanya, mungkin dominasi Merlini mirip dengan dominasi Ferrari_430 di masa TI 2.  Merlini adalah sang bintang bahkan sebelum SingSing, Arteezy, ataupun Sumail. Dominasi Ben Wu di lane manapun yang ia tempati membuatnya layak mendapat julukan “M-God”.

Bukti dari Dominasi Merlini di laning stage adalah Triple Kill sebagai Zeus melawan 3 Hero. Jadi salah satu play paling ikonik di sepanjang sejarah DoTA 1, Merlini  berhasil menang trilane melawan Eartshaker, Leshrac dan Vengeful Spirit sebagai Solo Lane Zeus.

Meskipun dengan block fissure, Merlini yang terpojok justru berhasil memainkan fog of war dan juga melakukan bait yang memaksa radiant untuk melakukan tower dive. Merlini berhasil survive meski nyaris tewas. Merlini juga dikenal sebagai salah satu player Zeus terbaik sepanjang sejarah DotA dan Dota 2.

Inovasi Merlini dan juga konsistensinya membuatnya menjadi salah satu nama yang bertahan. Bisa dibilang, level inovasi Merlini lebih dari EternaLEnVy di masa kini. Pada saat ia bermain di JMC, Ia menciptakkan posisi Jungler menggunakan Beastmaster+Bottle (tidak ada satu pun tim yang mempunyai posisi jungler tetap pada masa itu), pulling, double-pull, bisa dibilang semua ini adalah hasil ide dari Merlini yang membuat IceFrog sendiri sempat beberapa kali melakukan rework terhadap Jungle. Selain mechanical skill, inovasi dan kecerdasannya membuat nama Merlini semakin dikenal.

Inovasi ini biasanya menciptakkan satu meta baru, dan menjadi tim yang memulai meta baru biasanya memberikan banyak keunggulan dibanding tim lain.

Tinker Dota 1

Selain Zeus, Merlini juga terkenal karena skill nya dalam silencer dan Tinker, 3 signature hero-nya ini yang membuat Chinese scene menyebut Merlini sebagai salah satu “Dewa”. M-God. Merlini juga sempat bermain dengan beberapa pemain seperti Maelk, Fear, Loda dan Mania. Mania dan Merlini dikenal sebagai duo yang sangat kuat pada era DotA.

Merlini memutuskan untuk pensiun dari kompetitif Dota di tim SK Gaming Dota pada 2011-2012, Merlini hanya bermain professional Dota 2 di Zephyr dan Monib Baray. Itu pun tidak terlalu serius. Merlini hanya menjadi stand-in, namun performanya di Zephyr cukup luar biasa meski Merlini mengakui bahwa, karena tak semuda dulu lagi, ia memilih tetap membentuk karir sebagai komentator dan analis.

Merlini memutuskan pensiun dini dan mulai menjadi analis dan komentator pada musim Dota 2013/2014 dan mendapatkan tiker ke The International 2014 sebagai talent dan analis yang mempunyai pengalaman cukup jauh.

Diedit oleh Yabes Elia

Written by Rudi Hartanto

Dota 2 Analyst, Esports Historian. For Content and Dota 2 discusion feel free to follow on twitter : @therudihartanto

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%