,


Kuroky: Untuk Apa Kita Semua Bermain

Sulit tentunya untuk mendeskripsikan The International pada seseorang yang tidak mengikuti esports.

Perbandingan kecilnya adalah Super Bowl, namun ia bukanlah sekedar sebuah game saja. Pada The International, seperti kamu bermain di Super Bowl lagi dan lagi. Kompetisi yang tak pernah reda dan kalian punya ribuan pasang mata melihat pergerakanmu di dalam arena dan jutaan orang melihatmu lewat stream di seluruh dunia.

Aku sudah menjadi kapten untuk tim ini sejak 2015. Pada saat itu, aku membantu manajemen untuk menarik beberapa pemain yang saat ini mejadi roster kami. Beberapa di antaranya bahkan tidak ada yang tahu saat pertama kali dikontrak.

Namun, itu bukanlah masalahnya sekarang.

Ivan Borislavov (MinD_ContRoL) Ivanov adalah offlaner kelas dunia. Lasse (MATUMBAMAN) Urpalainen adalah carry yang fantastis dalam mencerahkan ruang latihan dengan antusiasme juga obrolan tidak pentingnya. Pada 2016, kita mengontrak Amer (Miracle-) Al-Barkawi, pemuda 20 tahun asal Jordania yang menjadi pemain DOTA 2 pertama dengan MMR 9000, tahun ini bahkan kita membawa Maroun (GH) Merhej, seorang support cantik yang membuat draft kami jauh lebih fleksibel.

Beberapa hari sebelum turnamen, aku merasa begitu percaya diri. Kami punya rekor 13-3 di group stage, dan masuk babak knockout sebagai kandidat juara. Kami tahu, jika kami keluar ke sana dan memainkan permainan kami sendiri, tak ada yang bisa mengalahkan kami. Yang harus kami lakukan adalah mengeksekusi mereka.

Aku pikir, hampir pasti, inilah tahun kami.

Dan kemudian, pada pertandingan pertama di bracket, kami kalah.

Yap, kami kalah dua game atas Invictus Gaming. Hal itu bukanlah suatu kehancuran, tapi cukup untuk membuat kami terlempar ke lower bracket. Ketika kami tidak sepenuhnya tereliminasi, itu artinya kami harus membalikkan keadaan dan menang enam pertandingan berturut-turut untuk menjadi juara. The International adalah turnamen double-elimination, yang artinya setiap tim diberikan kesempatan sekali kalah. Sayangnya, kami menyiakan-nyiakannya di hari pertama.

Aku tidak mau berbohong soal Invictus Gaming. Mereka adalah tim yang besar. Mereka mengalahkan kami karena mereka bermain tanpa takut, ketika kami bermain berhati-hati. Mereka berikan rencana-rencana pertarungan yang eksotis dan membuat kami kalah. Kami menghormatinya. Tapi harus kami akui pula bahwa kami gugup. The International adalah tujuan kita bermain. Setiap pemain DOTA 2, tidak peduli di mana ia dalam karirnya, bermimpi untuk memenangkan turnamen. Inilah suatu hal yang memenuhi kepala secara rutin, dan perasaan tersebut kadang menjadi lebih besar untuk ditanggung saat akhirnya kamu ada di sini.

Pada pagi di pertandingan pertama, ketika aku melihat tim, aku tahu ada yang hilang di sini. Kita tidak kalah seperti biasanya. Di turnamen yang kita menangkan, aku tidak pernah mencium kami bermain secara takut dan gelisah.

Untuk beberapa alasan, pada pagi hari melawan Invictus Gaming, cahaya yang ada terlalu terang untuk kami dan tekanan membuat kami kehilangan game. Aku ingat saat melihat GH, yang bermain pada The International pertamanya, ia benar-benar berjuang untuk tetap tenang. Kami memang belum siap berkompetisi, dan inilah bayarannya.

Semuanya normal. Tim ini mengalami kalah di The International. Memang sebuah tradisi. Tetapi sebagi kapten, ini adalah tugasku untuk membuat tim keluar dari isi pikirannya masing-masing. Ketika aku melakukan wawancara, aku berbicara lirih, hal itu yang orang tahu dari aku. Tapi setelah kekalahan  tersebut, aku tahu aku harus menunjukkan sisi lain diriku yang tidak banyak orang lain tahu. dan mengumpulkan intensitas agar kami bisa keluar dari ketakutan.

Di backstage, aku benar-benar bicara banyak dengan pemainku. Dan “bicara” maksudnya “menasehati.” Aku tidak bisa menaikkan nada bicaraku. Kadang terasa seperti aku harus memaksakan diriku untuk berteriak. Tapi ketika aku melakukannya, hal ini benar-benar menarik perhatian tim.

Mereka seperti “Wah, Kuro berteriak, mari bersiap.”

Dan ya, aku berteriak. Banyak.

Jika ada satu hal yang aku pelajari dari karir DOTA 2-ku adalah ada banyak hal yang lebih penting daripada kerjasama yang baik.

Ya, jelas pemainmu butuh untuk bertalenta dan disiplin, tapi ketika kamu bermain di The International, itu adalah anugerah. Setiap orang di sini tahu apa yang ia lakukan. Kamu tidak butuh motivasi tambahan ketika berkompetisi bersama 17 tim terbaik di dunia dengan prizepool $ 24 juta.

Karena setiap orang di level ini memiliki skill yang hebat, yang pastinya akan memberikan perbedaan kecil soal kesuksesan. Apa yang merupakan perbedaan antara juara dan yang kalah adalah bukan tentang kamu mengontrol personalitas dirimu, tapi lebih kepada hidup secara berdampingan ke teman setim kalian.

Jiwa pemimpin, kooperasi dan chemistry — akhirnya yang akan mendefinisikan siapa jawara itu. Apakah tim kalian percaya satu sama lain? Apakah mereka tetap dalam satu tujuan setelah kekalahan yang menyakitkan? Apakah kamu dapat menaikkan semangat satu sama lain setelah seseorang gagal gank atau terculik? Ketika kamu tertinggal, dapatkah kau tetap optimis, atau timmu kalah dengan kenegatifan? Jelas segalanya terdengar klise, namun setiap orang yang berkompetisi di level ini akan tahu kebenaran di belakangnya. Kamu akan bisa mendapatkan MMR tinggi di dunia, namun jika kau tidak bisa bermain sebagai sebuah unit, kamu akan terhukum.

Jadi saat berada di backstage, terkejut dengan kekalahan kami atas Invictus Gaiming, aku memberitahukan teman-temanku bahwa segalanya yang membuat kami kalah adalah masalah mental, dan mereka seharusnya tidak meragukan kemampuan mereka. Kamu tak bisa diintimadasi oleh The International. Jelas itu super mengintimidasi, tapi adalah bunuh diri untuk fokus pada pertandingan dan hadiah. Pada perasaan tersebut, kamu harus melalukan trik pada dirimu sendiri pada mempercayakan sesuatu yang tidak nyata — ini hanyalah sebuah turnamen seperti yang lain. Terdengar gila, namun satu hal yang aku tetap katakan adalah “Jangan berpikir tentang menang! Fokuslah pada performa yang baik.” Karena jika kalian dapat melakukannya, segalanya akan jatuh tepat di tempatnya secara alami.

Tentu, aku tidak kebal terhadap gugup. Aku bermain di tujuh The International. Aku menjadi runner-up di 2013, dan menyelesaikan top 8 di 2014, 2015, dan 2016. Memenangkan Aegis sudah menjadi tujuanku, sebagi leader, aku pikir aku hal tersebut memberikan sudut pandang lain untukku dan membuatku bersimpati dengan teman timku  yang lebih muda yang tidak terbiasa berada dalam tekanan. Ketika kulihat mata GH, aku melihat kegelisahan dan tekanan yang sama seperti saat aku berada di The International pertamaku. Jadi ketika aku berbicara setelah kekalahan pertama, aku mencoba terbuka pada mereka. Aku bicara, “Kawan, dengar, aku telah kalah di turnamen ini 6 kali, aku tidak takut kalah lagi, kau juga. Kita sudah bermain di banyak turnamen bersama-sama, dan kali ini sama seperti yang lain.”

Seperti yang aku bilang, membandingkan The International dengan turnamen lain adalah sesat, tapi untuk kasus ini ada tujuan dibaliknya untuk memberikan pengaruh pada tim ini.

Ketika kamu panik berpikir soal eliminasi, kamu akan memberikan wajah tanpa ekspresi — seperti saat kalah melawan Invictus Gaming. Tapi di lain sisi, ada sesuatu yang pasti: Ketika kami bersenang-senang, Team Liquid adalah tim terbaik di dunia.

Hari selanjutnya saat melawan Team Secret, tim ini pernah bermain bagus dulu. Sayangnya kami hancur lebur di game pertama,. Setiap orang bermain buruk; benar-benar buruk. Kekalahan tersebut menempatkan kita di jurang eliminasi, dan aku mengumpulkan semuanya di kamar mandi backstage serta berteriak sekali lagi. Ketika aku “berteriak”, aku tidak marah, hanya menyemangati — tapi ternyata tidak membantu. Faktanya, hal itu menjadi keegoisan karena kau hanya mencambuk mereka untuk keluar dari frustasi. Sebagai gantinya, aku berteriak untuk mendapatkan level energi kami kembali, sehingga kami dapat bermain dengan bebas dan fluiditas seperti biasanya. Meskipun begitu, kami tidak punya pilihan. Jika kami tidak bermain seperti biasanya, kami akan pulang cepat.

Dan ini berhasil.

Kami menghancurkan dua game tersebut dan dapatkan tiket ke babak selanjutnya. Sejak saat itu, kami mulai bermain dengan tenang di setiap ronde turnamen. Kami kalahkan Team Empire, Virtus.pro, dan kemudian LGD serta LGD.ForeverYoung, dua tim terbaik China di dunia. Dua kemenangan tersebut berhadiah tiket Grand Final melawan Newbee.

Aku ingat saat berkata pada teman-temanku setelah mengalahakan LGD.ForeveverYoung dan merasakan sesuatu yang luar biasa leganya. Dikirim jatuh ke loser bracket dan berjuang untuk mencapai Grand Final adalah sebuah perjalan emosional. Memang kami belum mendapatkan tujuannya, namun kami merasa seperti diri kami sendiri lagi.

Kupikir yang mendorong kita sampai ke Grand Final adalah energi positif yang kita bawa pada pertandingan-pertandingan terbesar sepanjang karir kita. Kita punya rekor bagus atas Newbee, namun aku tetap mengingatkan pada semuanya agar tidak berpuas diri. Ini bukan soal kita mengalahkan lawan di masa lalu, ini Grand Finals The International dan mereka bisa ke sini juga karena suatu alasan.

Pada akhirnya, kami kalahakan mereka 3-0, yang mana hal ini adalah pertama kalinya The International usai dengan kemenangan bersih. Bagian paling bahagianya adalah kami berhasil berada di titik di mana kami seharusnya ada dan mengumpulkan beberapa permainan terbaik di Dota di hidup ini. Ketika kami mulai sumringah, aku lihat teman-temanku berbahagia bersama kerumuman. Setelah game pertama MATUMBAMAN melakukan gerakan throat-slash pada penonton.

Itulah saat kamu tahu jika kamu bermain dengan percaya diri.

Itulah saat aku tahu bahwa mereka bersenang-senang.

Kutumpahkan air mata setelah kami menjadi juara.

Aku bukanlah tipikal orang yang banyak menangis, namun aku tidak bisa mengontrol diriku. Seperti mimpi ada di panggung. Akhirnya setelah sekian lama, kamilah juaranya, dan tentunya $ 10 juta lebih kaya. Seseorang memberitahuku bahwa kami menjadi atlet dengan pengahasilan tertinggi di dunia sejauh ini. Keren, aku senang bisa melakukan semua ini saat hidup, tapi hal itu bukanlah alasan aku bermain. Perbedaannya menjadi yang terbaik di sesuatu yang kamu cintai — tidak ada berapapun jumlah uang yang bisa melewati perasaan puas tersebut.

Setelah emosi di awal yang kita bangun, aku mulai merasakan sesuatu yang janggal. Aku menghabiskan 7 tahun untuk memenangkan The International. Aku telah memilih untuk hidup sendirian di hidup dewasaku. Setiap hari menghabiskan waktu untuk lebih baik di DOTA 2. Melihat kembali rekaman pertandingan, berlatih bersama tim lain, merangkai statergi lagi dan lagi, membangun teori — setiap hari. Sekarang, aku akhirnya ada di sini, dan secara mengejutkan, aku merasa kosong. Hampir depresi. Ada kegelapan yang samar dalam diriku, seperti sesuatu yang familiar namun hilang.

Aku bingung dengan perasaan ini.

Seperti ada seuatu yang salah padaku. Bukan aku tidak bahagia atau tidak bangga dengan apa yang aku menangkan. Sejujurnya, aku senang. Itulah pencapaian terbesar di karir kami. Tapi kukira ada alasan mengapa aku merasa janggal. Memenangkan The International membuatku jauh dari faktor motivasi nomor satuku. Seperti apa yang aku dapat setelah aku bangun tidur dan apa yang aku pikirkan sebelum tidur. Sekarang, setelah nama kami ada di Aegis, aku tidak tahu selanjutnya apa. Dunia tetap sama saja. Hidup terus berlanjut. Pekerjaanmu berat karena satu hal, dan setelahnya, selesai. Ya, aku akhirnya tahu apa yang aku inginkan, tapi aku tak pernah berpikir tentang apa yang terjadi setelahnya. Aku seharusnya sekarang butuh belajar bagaimana caranya hidup setelah mendaki gunung.

Teman satu timku juga merasakan hal yang sama. Kami semua mengakui jika kami merasa sedikit terombang-ambing. Kami bahkan tidak berpesta terlalu sering setelah menjadi juara. Malah kita lebih sering ke restoran lokal bernama McDonald’s. Lalu beberapa kali pergi ke after-party, di saat yang lain tidur cepat.

Beberapa hari setelahnya, aku duduk di rumah, mencoba mencari apa selanjutnya. Tiba-tiba obsesi baru hadir menjadi tujuan baru: memenangkan The International selanjutnya.

Aku tahu, sulit memang untuk dipercaya — banyak turnamen DOTA 2 sebelumnya di keseluruhan tanggal di kalender — tapi ini semua yang dapat aku pikirkan sekarang. Aku telah mencoba mengajarkan diri sendiri untuk hidup di saat ini karena aku tahu obsesi tersebut tidaklah sehat, tapi itulah yang membawaku sejauh ini.

Satu hal yang memberiku kedamaian adalah tahu bahwa aku tidaklah sendirian. Aku diberkahi dengan hadirnya orang-orang yang bekerja keras, tim yang murah hati di planet ini. Team Liquid adalah sekumpulan orang yang spesial, melewati menang dan kalah, merespon dengan penuh semangat, disiplin dan kasih sayang. Suatu kehormatan menjadi kapten mereka, dan kami siap untuk menhadapi apa yang selanjutnya ada.

Menjuarai The International begitu luar biasa, aku tahu begitu luar biasa. Tapi menang bersama mereka — inilah yang membuatnya begitu spesial.

 

KuroKy

 

 

PS: Tulisan ini diterjemahkan dari The Players’ Tribune oleh Higsweart Benetz.

Comments

Loading…