in

Kips Ungkapkan Alasannya Keluar dari TNC, Hanya Ingin Menjadi Coach?

Menjadi seorang yang bertanggung jawab dalam tim, memang bukan lah suatu hal yang mudah dilakukan. Banyak hal yang akhirnya memberikan tekanan cukup besar, sehingga keputusan untuk keluar dari tim mau tak mau diambil.

Dan inilah yang terjadi pada Kips. Wanita yang terkenal di DOTA 2 sebagai seorang coach dan analyst ini, terakhir menyandang posisi analyst  TNC. Kemarin, belum lama ini ia memutuskan untuk keluar dari TNC, namun tidak memberikan keterangan yang jelas tentang apa di balik keputusannya untuk cabut.

 

Dan tiba-tiba saja, Kips memberikan sedikit cerita tentang jalan ia yang ia tempuh untuk keluar dari tim. Menggunakan media Medium, ia curhatkan apa yang selama ini mengganjal di hatinya.

Sebagai orang yang memiliki posisi sebagai analyst, tentunya ia bertanggung jawab jawab dengan hasil yang di dapatkan tim TNC di The International 2017 kemarin, dan ia merasa bahwa kekalahan yang ada benar-benar memukul dirinya. Mimpi untuk membawa SEA Pride satu ini melangkah jauh harus terhenti di tangan OG.

Ia mengakui bahwa ia telah melakukan yang terbaik untuk tim, namun memang terlihat segalanya sudah begitu salah saat itu. Banyak momen yang menghancurkan jiwa yang ia lalui; seperti saat tim yang ia bela kalah dari DC di TI6, gagal lolos ke Boston, dikalahkan Faceless di Kiev, ia benar-benar merasa semua itu seperti ditendang tepat pada perut. Namun, tidak ada yang separah bagaimana nasib TNC tahun ini. Dan ia harus meninggalkan tim.

Menurutnya, saat awal ia datang dan mengemban posisi coach, ia membuat perubahan pada tim. Namun pada saat perubahan roster terjadi, ia kembali menjadi analyst. Perubahan ini menurutnya sudah dipersiapkan namun ia merasa bahwa peran dia dalam tim begitu bergeser dari seseorang yang menjadi bagian tim, sekarang hanyalah seorang staff. Dari orang yang awalnya menjadi penggebrak, sekarang hanyalah seseorang yang melakukan pekerjaan saja. Ia tidak menyalahkan siapa-siapa, selain dirinya sendiri. Konsekuensi yang hadir mengingat skill para pemain yang ada begitu tumpang tindih dengan dirinya.

Harapannya untuk benar-benar menjadi bagian dari tim ini musnah. Saat ia menjadi analyst dan kemudian ditawari untuk menjadi coach tim wanita TNC, ia merasa tidak ada emosional yang hadir di sana.

Dan di bawah ini adalah terjemahan dari beberapa pertanyaan yang mungkin terlontar kepadanya:

  • TNC tim yang bagus! Kau bisa menangkan segalanya jika tetap bersama mereka.
    “Menang” bukan persamaan “bertumbuh”. Jika karir pro DOTA ku adalah sebuah bayi, tentu ia baru berumur 16 bulan sekarang. Aku masih sangat, sangat baru, dan aku punya hutang pada diriku sendiri untuk menmgambil waktuku serta menjelajah pilihan-pilihan yang ada untukku.
  • TNC tim yang bagus! Tim ini bisa menangkan segalanya jika tetap bersama mereka.
    Tapi, hal itu bukan hanya hal itu saja. Aku sudah tidak memiliki pengaruh yang aku inginkan dalam tim ini, dan job analyst sepertinya lebih baik diberikan pada orang yang lain.
  • Kau dapat melatih tim wanita, bukan?
    Sayangnya, hal itu akan menjadi kemunduran. Jika seprti itu, tidak ada kesempatan lagi untukku mengukur kemampuan melawan yang terbaik, seperti di Kiev. Dan jikapun melakukan tugas yang baik (dengan tim wanita tersebut) tentunya tidak akan memberikan pengaruh yang sama ketikan melakukan pekerjaan baik seperti dengan tim pro yang asli.
  • Tapi kau hanyalah seorang analyst.
    Dan aku ingin menjadi coach. Jika aku bodoh dalam melakukan pekerjaan tersebut, aku akan mundur. Saat ini, banyak tim-tim yang menginiginkan aku menjadi coach— faktanya ada beberapa di luar sana. Mereka menawarkan aku pekerjaan tersebut. They offered me jobs. Aku pikir, aku semahal Gucci sekarang.

Untuk kalian yang penasaran dengan versi aslinya, kalian bisa membacanya A Farewell to TNC.

Written by Higsweart Benetz

Cinta luar angkasa. Bermimpi jadi Astronaut. Hidup untuk menulis. Lantas membaca apapun dengan nada. Rutin mencium harumnya combo Nasi Goreng dan Air Putih. Dan mencari apapun yang berwarna biru.

In love with Aimer, Ailee, and Raisa. Also Chelsea FC, Boston Celtics, and Team Secret.

Share the day after day on Instagram @higs44.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Loading…