in

Respon Buruk Komunitas Dota 2 China tentang Isu dan Kata Rasisme!

Komunitas Dota 2 China protes kata-kata rasisme.

Memang menjadi salah satu game terkenal, Dota 2 tentu diisi oleh berbagai macam pemain dari setiap negara. Semua pemain hadir dari regional dan tentunya berbagai macam ras di berbagai dunia, salah satunya China.

Sumber: Valve

Namun kali ini kita tidak membahas tentang pertandingan atau pemain Dota 2, melainkan isu rasisme dari penggunaan kata-kata yang dinilai kurang pantas.

Yup, semua isu bermula pada salah satu pemain compLexity Gaming, yaitu Rolen Andrei Gabriel “Skemberlu” Ong. Pemain berkebangsaan Filipina tersebut menulis “Gl chingchong” saat melawan wakil China, RNG di DreamLeague Minor Season 10.

Namun, secara pribadi Skemberlu mendapatkan hujatan dan dipaksa untuk meminta maaf. Hasilnya, Skemberlu dikenakan denda oleh timnya, yaitu compLexity Gaming.

Rupanya setelah membaik setelah waktu yang cukup singkat, isu ini kembali digaungkan oleh salah satu pemain Asia Tenggara lainnya.

Kali ini offlaner dan mantan kapten TNC Predator, Kuku “KUKU” Palad yang bermain di public harus mendapatkan ganjarannya. Hal ini dilaksanakan paska pemain tersebut juga mengatakan kata-kata “Ching Chong”, namun hal ini karena musuh dari KUKU memang menggunakan nama tersebut.

Sumber: Weibo Kuku^

Sama seperti Skemberlu, TNC Predator memberikan sanksi dan denda kepada KUKU. Namun, komunitas Dota 2 China sangat serius menanggapi isu rasisme ini.

Bagaimana tidak, beberapa tim telah mengumumkan pendiriannya untuk menolak segala bentuk isu rasisme. Pengunaan kata “ching chong” sendiri dinilai sebagai sesuatu yang serupa dengan kata-kata “N-word” untuk ras kulit hitam.

Sebagai balasannya, menurut pengakuan BurNIng, PSG.LGD menolak permintaan TNC Predator untuk melakukan scrim. Hal ini mengundang banyak reaksi komuntas Dota 2 China, tidak terkecuali tim profesional.


PSG.LGD/LGD Gaming

Sumber: Weibo

Tim runner-up TI8 ini juga ikut berbicara mengenai aksi rasisme yang kerap terjadi. Dalam laman Weibonya, tim tersebut ikut mengutarakan pendapatnya.

“Semangat esports berada tidak hanya sebatas nasionalisme, tetapi rasisme juga menjadi isu yang harus mendapatkan perhatian! Dalam berbagai acara, pendapat rasis terhadap China tidak harus muncul di ranah profesional.

Kami berharap bahwa Valve mampu mengambil peran dan aksi konkret terkait insiden diskriminasi ras. Terlepas dari di mana dan kapan hal itu terjadi, nasionalisme merupakan dasar organisasi kami.”


Vici Gaming

Tim yang sedang mencoba berkembang ini juga ikut mengutarakan pendapat mereka. Berbeda dengan LGD, Vici Gaming lebih memilih akun Twitter sebagai respon untuk adanya isu rasisme ini.

“Setelah berbagai macam aksi negatif belakangan ini, dari coL Skemberlu dan TNC Kuku, terhadap Chongqing Major yang mendapatkan aksi serupa. Vici Gaming ingin membuat sebuah pernyataan.

Vici Gaming dengan sangat keras mengecam aksi ini. Kami percaya bahwa masa muda dan ketidakpedulian bukan merupakan alasan dari hadirnya kesalah tersebut. Kami harap Valve akan mengambil langkah, berharap untuk menjaga lingkungan kompetitif yang baik.”


Team Aster

Sumber: Weibo

Menjadi salah satu tim yang keras menyikapi hal tersebut, tim yang ditunggangi oleh BurNIng ini sangat keras terhadap isu rasisme. Dalam akun Weibonya, Aster juga memberikan pernyataan terkait hal tersebut.

“Beberapa waktu yang lalu, dua insiden rasis terhadap China telah terjadi. Satu dari tim compLexity di pertandingan minor dan satu lagi dari TNC di pertandingan public. Beberapa pihak telah melaporkan hal ini.

Sumber: Wykrhm Reddy

Namun sangat disayangkan, pada akhirnya tidak ada reaksi yang diambil oleh Valve. Kami sangat kecewa dengan bagaimana hal ini terjadi dan sikap acuh dari Valve!

Rasa hormat merupakan hal baik bagi kedua pihak. Maka dari itu, Team Aster berjanji bahwa, bila ada pernyataan rasis yang terjadi lagi dari pemain atau staf kami, mereka akan dihukum langsung dan diumumkan di ke ranah publik.

BACA JUGA: PM Denmark Dukung Astralis Langsung di BLAST Pro Series, Bagaimana dengan Indonesia?

Dan kami menyambut baik saran dari semua orang. Di turnamen mendatang, kami akan mengkampanyekan aksi #RESPECT dari UEFA dan menambah tulisan RESPECT di setiap ID pemain kami, sampai semua pemain dari seluruh dunia paham akan pentingnya masalah ini dan sampai hal seperti ini tidak terjadi lagi.

Sukses Capai 100 Juta Pemain, Hearthstone Adakan Bagi-bagi Pack Gratis!

Dengan respon acuh Valve sampai saat ini, kami harap dan dukung permasalahan seperti kompetisi yang adil dan kesetaraan ras siap dibahas secepat mungkin dengan gerakan komunitas.”


Selain dari pihak China, salah satu panelis dari gelaran Valve, Paul “Redeye” Chaloner juga memberikan pandangannya. Sekaligus meminta seluruh fans Dota 2 di seluruh dunia untuk meredahkan emosi terkait sikap Skemberlu juga Kuku.

Selain itu Redeye mengatakan bahwa melawan rasisme dengan rasisme tidak akan menghasilkan apapun. Kapten tim compLexity, EternaLEnVy juga memberikan pendapatnya sekaligus meminta maaf dalam akun Twitternya.

Dia meminta semua orang bersikap kepala dingin dalam menanggapi isu tersebut. Dia juga yakin bahwa Skemberlu melakukannya tanpa ada maksud menghina dan murni spontanitas.

Maka, EternaLEnVy meminta semua pemain sadar akan pentingnya rasa saling menghormati. Sebagai perwakilan tim ia juga meminta maaf atas insiden tersebut.

Xu “BurNIng” Zhi Lei memperkuat Invictus Gaming. Sumber: Dota 2 Asia Championship.

Dalam aksi ini juga BurNIng menghubungi langsung pihak Valve dan meminta langkah konkret dari perusahaan selaku pengembang Dota 2. BurNIng meminta ada peraturan dan hukuman yang jelas terkait isu rasisme.

Erik Johnson, selaku perwakilan Valve mengatakan bahwa mereka akan bergerak bila pihak tim tidak memberikan ganjaran atau sanksi. Namun sejauh yang mereka lihat, pihak TNC Predator maupun compLexity Gaming telah memberikan ganjaran yang jelas.

Sumber: Weibo

Valve juga secara tegas tidak mendukung aksi rasisme seperti ini dan mengecam hal tersebut. Lantas, Erik Johnson mengaku bahwa hal ini akan dikoordinasikan lebih lanjut kepada tim-tim terkait.

Selain itu, Dota 2 mendapatkan banyak review negatif paska Valve yang digadang tidak memberikan efek dan langkah yang jera. Terbukti dari ribuan anggota yang menurunkan kualitas review game Dota 2 di Steam.

Sumber: Steam

Menurut kalian, apa ganjaran yang perlu diberikan kepada isu rasisme sepert ini? Bila dibiarkan tentu aksi seperti ini mencoreng nama esports yang sedang berkembang pesat.

Bukan tidak mungkin, ‘aksi pisang Daniel Alves’ dapat terjadi di ranah esports. Tentu RevivalTV juga mendukung adanya ekosistem esports yang bersih, sehat dan kompetitif. Semoga seluruh elemen mampu menjaga emosi dalam hal ini dan semua tim esports tanpa terkecuali belajar dari insiden tersebut.

Beginner Content Writer. Esports for News and Life. Rise with Words.
Seeking the proper way to enjoy words in writing.

Chelsea FC fans, Virtus.pro fans and Tofu-Tempeh Eater.
For business inquiries: yubianasfar@yahoo.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Loading…