in ,

[Exclusive Interview] Ngobrol Bareng Era, Si Midlaner Ganteng Dari The Final Tribe

Di antara jajaran player seperti Fear, Dendi, ataupun Aui_2000 yang telah lama meniti karier di dunia kompetitif Dota 2, terselip sebuah nama yang mungkin tak asing lagi di telinga kita. Ia adalah Adrian “Era” Kryeziu, yang merupakan pendiri dari tim The Final Tribe sekaligus sebagai midlaner untuk timnya itu.

Di ajang GESC: Indonesia Minor, saya berkesempatan untuk mewawancarai Era secara langsung untuk menanyakan beberapa pertanyaan terkait dirinya dan juga perkembangan eSports di tanah airnya, Swedia.

Kemeriahan GESC Indonesia Minor Ditutup dengan Kemenangan Mudah Evil Geniuses

Bagaimana tentang Jakarta sejauh ini?

“Jakarta has been nice. Sayang sekali kami tidak bisa menjelajah Jakarta lebih lanjut karena hotel kami berada di sebelah (ICE). Kami tidak benar-benar keluar hotel, kami terlalu fokus bermain dan berlatih di Dota. Tetapi masyarakat di sini sangat baik, kami mulai peduli satu sama lain. Jadi, sejauh ini saya suka Indonesia.”

Era, saat ber-selfie dengan seorang pengunjung di sesi tanda tangan GESC: Indonesia Minor. Dokumentasi: Dian Pratama / RevivaLTV

Bisakah Anda menjelaskan tentang ranah esports di Swedia sekarang?

“Ranah eSports di Swedia dulunya lebih baik dibandingkan sekarang. Saat itu, tepatnya di era The International 3, semua orang sangat tahu tentang Alliance, dan sebagainya. Sekarang, para player (dari Swedia) sepertinya masih dalam tahap berkembang dan mereka belum membuktikan bahwa mereka akan sukses. Yaa, jadi kami masih butuh beberapa waktu.”

Roster Alliance di 2013. (Source: liquipedia.net)

Seperti yang kita tahu, Alliance yang merupakan tim asal Swedia adalah pemenang The International 3. Hal itu tentunya sangat berdampak bagi kemajuan eSports di Swedia, karena Alliance berhasil membawa nama baik negerinya.

Anda telah memulai karir sejak tahun 2012 dengan bergabung dengan Fnatic. Apa yang memotivasi Anda untuk tetap bermain Dota sejak awal karir Anda?

“Awalnya, apa yang saya lakukan adalah berusaha untuk membuktikan kepada diri saya dan orang lain bahwa apa yang saya lakukan ini (bermain Dota) adalah sesuatu yang berarti bagi saya dan akan membawa saya kepada kesuksesan.

Tetapi sekarang, sejak kegagalan saya, jika Anda mengatakannya seperti itu dengan Fnatic, saya akan mengulangi apa yang saya lakukan di awal. Membuktikan bahwa saya di sini untuk tetap berkarir di esports.”

Era (kedua dari kiri) pada saat masih bermain untuk Fnatic (Source: redbull.com)

Singkat cerita, Era memulai karirnya di tahun 2012 dengan bergabung dengan Fnatic. Sayangnya, pada tahun 2014 ia harus meninggalkan Fnatic. Sejak itu, ia mengaku telah mengalami kegagalan. Ia pun juga berpindah dari satu tim ke tim lainnya, seperti Ninjas in Pyjamas, No Diggity, Escape Gaming, dan bahkan ia pernah bermain di Alliance. Takdir membawanya kepada keputusan untuk membuat sebuah tim bernama The Final Tribe yang sekarang kita kenal ini.

Apa yang Anda ingin katakan kepada fans dari Indonesia?

“Saya hanya ingin berterima kasih kepada semua orang yang datang, contohnya seperti orang-orang yang datang saat sesi signing, orang-orang yang telah menyemangati kami. Kami mencintai kalian semua.”


Itu dia sekilas interview dengan Era, yang memulai karirnya sejak usia belia yaitu di usia 16 tahun. Gimana dengan kalian? Apakah kalian para generasi penerus tertarik untuk mengikuti jejaknya? Terakhir, kita doakan bersama yuk agar Era semakin sukses ke depannya. Good luck have fun!

Diedit oleh Yabes Elia

Written by Jane Edgina

17 year old writer-translator. Female. A loyal support in Dota 2. Daydreamer and snow-addict❄
Adventure book (Instagram) — @janeenuary

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Loading…