in ,

[In-Depth] Sejarah Panjang Counter-Strike: Dari Mod Half-Life Sampai Pengaruhnya di Esports Modern

Siapakah yang tidak tahu game FPS ini? Counter-Strike (CS) merupakan FPS paling laris di jaman modern dan juga masih jadi esports FPS paling digemari. Namun, apakah kalian tahu sejarah dari Counter-Strike?

Mari kita belajar sejarahnya yuk!

The Beginning

Siapakah orang yang membuat Counter-Strike?

Minh “Gooseman” Le dan Jess “Cliffe” Cliffe adalah 2 sosok brilian di balik Counter-Strike. Pada 1999, Gooseman dan Cliffe berusaha membuat modifikasi (mod) untuk Half-Life. Mod yang berusaha dibuat tadi adalah Multiplayer Deathmatch Mode.

Gooseman merupakan fans dari Valve dan Half-Life. Ia jatuh cinta dengan gameplay Half-Life yang membawa nuansa baru ke PC gaming dengan graphic, sound, dan gameplay yang luar biasa pada jamannya.

Image result for Minh “Gooseman” Le Jess “Cliffe” Cliffe

Mod tersebut akhirnya muncul pada 9 November 1999, dengan background story mengenai Terrorists vs Counter-Terrorists force. Mod itu adalah Counter-Strike.

Counter-Strike menjadi salah satu mod paling populer di Half-Life karena dalam jangka waktu 6 bulan setelah dirilis, Counter Strike sudah mempunyai sekitar 8.000 pemain. Angka yang cukup tinggi dibanding mod-mod lainnya.

Image result for first cs half life

Perkembangan pemain custom game (mod) CS yang luar biasa ini membuat Valve, Developer dari Half-Life akhirnya mengakuisisi Counter-Strike. Gooseman dan Cliffe akhirnya bekerja di bawah Valve dan mengembangkan Counter-Strike sebagai game sendiri di luar Half-Life. Namun Counter-Strike akan tetap menggunakan engine Half-Life.

CS memanfaatkan engine Half-Life dengan baik, dan membuat game ini lebih realistis secara mekanisme dibanding game lain pada masanya seperti Unreal Tournament dan Quake.

Half-Life sendiri memang nyatanya salah satu game terbaik pada masanya. Dari segi game engine, sound, dan graphic, game ini sangat populer dan mengubah lanskap PC gaming secara drastis.

Counter Strike : A Valve Game

Dari sekedar Mod, Counter-Strike berubah jadi game yang berdiri sendiri dan popularitasnya berkembang sangat cepat. CS juga berkembang bersama komunitasnya. Community menjadi fokus developer CS.

Saat itu orang-orang memberikan masukan dan kritik yang membangun untuk Gameplay CS dan bagaimana Balance dan mekanik-mekanik yang berlaku. Kritik ini dilakukan di forum resmi Counter-Strike yang sangat aktif di masa awal perkembangan hingga 1.6.

Counter Strike menjadi salah satu fenomena global yang menyentuh banyak negara bersamaan dengan “Internet Boom” di awal 2000-an.

CS adalah salah satu game yang menjangkau semua khalayak: sebuah game yang mengandalkan kerjasama tim namun juga tetap membuka ruang untuk skill individu bersinar, berbeda dengan game-game lain pada masanya yang cenderung tidak team-oriented.

CS pun menjadi sejuta cerita banyak orang bersenang-senang bersama teman mereka: menghabiskan waktu berlatih recoil AK-47, main bareng di server deathmatch, marah-marah karena kabel LAN yang tiba-tiba disconnect, main AWP di Dust 2 tapi hanya peek Double Doors. 

Ataupun sebuah kenangan dari orang-orang yang di masa SD atau SMP begitu pulang sekolah malah langsung belok ke warnet untuk bermain CS rame-rame.

Image result for cs 1.5 menu screen

 

Counter-Strike 1.6: The New Global Esports Frontier

Quake, Unreal Tournament dan Starcraft: Brood War merupakan cikal bakal esports dan competitive gaming pada awal 2000-an. Namun 3 game ini hanya berkembang secara regional dan tidak secara global.

Quake III Arena atau lebih dikenal dengan sebutan “Quake” misalnya sangat populer di Amerika Serikat. Quake menjadi besar di AS dan Kanada karena game shooter ini basic-nya mudah dipahami.

Quake menjadi salah satu game esports pertama yang berkembang besar. Kompetisi Quake populer di Jerman, Inggris dan beberapa negara eropa lainnya. Namun Quake kurang populer di Asia.

Lalu ada game-game RTS seperti Starcraft: Brood War yang menjadi “esports nasional” untuk Korea Selatan. Korea Selatan menjadi salah satu kiblat perkembangan Esports karena dominasi mereka di masa awal kompetisi Starcraft Internasional.

Dominasi Korea Selatan di Starcraft membuat negara lain terpaksa harus bertekuk lutut dan semua pemain top akhirnya adalah warga negara Korea Selatan. Dominasi Korea Selatan membuat negara lain beralih hati dari Starcraft.

China dan Denmark misalnya menjadi 2 region di mana Warcraft III (RTS lain yang ngetop di jamannya) bersinar, sebelum akhirnya kedua negara ini bertemu dengan DotA dan menjadi region yang bersinar di DotA.

Semua game sebelumnya berbeda dengan Counter-Strike. CS adalah game global yang populer di semua region. Dari mulai perkembangan CS di Amerika Serikat yang mendorong pemain-pemain populer Quake berakhir ke CS.

Lalu di negara-negara Skandinavia orang-orang bermain CS secara online karena server yang tersedia tersambung dengan koneksi internet super cepat. Di Polandia, Ukraina dan Rusia orang-orang bermain CS di internet cafe sambil bertaruh untuk satu botol bir ataupun traktir makan siang.

Semenjak 2003, Valve merilis CS 1.6 melalui Steam dan 1.6 menjadi versi Counter-Strike paling populer hingga 8 tahun. 1.6 dirilis di Steam beta 2.0, pada saat itu Interface steam masih berwarna hijau. Meskipun Steam menjadi media update paling efektif, banyak pemain justru tetap bermain tanpa Steam untuk Counter-Strike dan membangun berbagai server-server baru.

Image result for old steam interface

Jika ada game yang pantas disebut sebagai game paling populer di dunia, Counter-Strike 1.6 adalah kandidat paling kuat. Mungkin popularitas CS mengalahkan game-game console.

Di Swedia muncul team seperti NIP dan Fnatic. Di Brazil muncul Made In Brazil atau MiBR. Ada juga Virtus.Pro dengan lineup Rusia, dan juga nama-nama besar pemain Polandia: TaZ, KubeN, dan NeO yang notabene bermain hingga era Counter Strike:Global Offensive.

CS 1.6 menjadi esports terbesar dengan total sekitar 589 Turnamen level internasional. The Cyberathlete Professional League (CPL) Summer 2003 menjadi turnamen dengan prize pool paling besar untuk CS 1.6 yakni US$ 200.000.

Di kala itu, Turnamen masih bersifat “seadanya” dengan prize pool mengandalkan sponsor dan tim yang datang tanpa akomodasi apapun kecuali tiket penerbangan. Beberapa turnamen menyediakan hotel untuk pemain, namun ada juga yang tidak menyediakan penginapan dan bahkan akhirnya pemain tidak dapat berlatih karena tidak adanya tempat latihan kecuali beberapa saat menuju pertandingan dimulai.

Related image
Noodle Help Skadoodle. Posisi Monitor yang dekat dengan bola mata sangat identik dengan CS, beberapa pemain mulai menggunakan ini di era High Resolution CS: Source, yang lain sejak 1.6

Kursi yang sederhana, penonton yang berdiri dibelakang pemain, dan layar monitor CRT menjadi pemandangan yang lumrah di turnamen CS.

Namun atmosfer ini justru yang membuat CS menjadi sangat menarik. Banyak pemain tak ragu melakukan trash talk dan melakukan hal yang membuat lawan tidak fokus. TaZ misalnya dikenal sebagai salah satu pemain yang paling senang melakukan trash talk. n0thing juga tidak ragu untuk melakukan trash talk saat masa 1.6 (bahkan hingga CS:GO, jika ia bermain tanpa booth).

Selain itu tim Amerika, Rusia dan Ukraina mulai bermain dengan posisi monitor yang hanya berjarak 10 cm dari mata mereka.

 

 

Transformasi Logo VP. Virtus Pro adalah salah satu organisasi esports yang bertahan sejak awal pendiriannya di 2003. Selain VP ada juga nama-nama tim lain yang sudah berdiri dari akhir 90an atau bahkan seperti SK Gaming, Evil Geniuses, Mousesports, Fnatic.

Posisi CS 1.6 sebagai salah satu game favorit di kancah kompetisi game internasional tak tergoyahkan hingga awal rilis Global Offensive. Dominasi ini membuat Valve menjadi salah satu developer paling sukses di kancah esports meskipun tidak terlibat secara langsung turun tangan sebelum tahun 2011.

Selain 1.6 beberapa mod untuk Counter Strike mulai muncul, salah satu yang resmi dan banyak dikenal adalah mod Counter-Strike: Condition Zero yang mempunyai campaign mode dan juga pilihan karakter yang unik di setiap level.

Mod-mod lain juga mulai bermunculan bersamaan dengan semakin merebaknya map-map baru yang populer dan game mode baru yang membuat Counter-Strike berevolusi bersama dengan komunitasnya.

Counter-Strike : Source

Image result for cs source screenshot

WCG dan ESWC menjadi 2 turnamen elit sebelum tahun 2011. World Cyber Games WCG) misalnya dikenal sebagai “olimpiade esports” pada masanya, The Electronic Sports World Convention (ESWC) menjadi ajang unjuk gigi berbagai negara-negara terbaik di Esports.

Source dirilis pada November 2004. Namun pada awal peluncuran dan demo, Source banyak mendapatkan kritik karena perubahan yang dilakukan sangat drastis dari CS 1.6.

Banyak yang menyebut Source sebagai anak tiri dari Counter-Strike series karena seri ini dianggap mengecewakan bagi banyak pemain. Terutama di pro scene, kekecewaan ini memaksa tournaments organizer untuk tetap menggunakan 1.6 meskipun Source sudah muncul sebagai penerus.

CS: Source dikenal mempunyai recoil senjata dan mekanik movement yang berubah drastis dibanding 1.6. Recoil senjata yang tidak konsisten sehingga sulit melakukan spray control, flashbang yang dikenal lebih efektif dibanding di 1.6, serta beberapa hal seperti model karakter yang cenderung lebih “berwarna” dibanding 1.6.

Tentunya dengan engine dan grafis baru game ini menjadi lebih terlihat bagus dan menarik, namun secara  gameplay banyak pemain justru menolak.

CS:S dianggap sebagai versi mudah dari 1.6 terutama di awal peluncurannya. CS:S sempat berkembang pada masa 2005-2008, namun tetap tidak mempunyai competitive scene sebesar 1.6.

World Cyber Games misalnya menjadi salah satu Tournament Organizer yang populer, namun mereka hanya menggunakan Counter Strike: Source di 2005. Banyak pro player pada masa itu cenderung menolak keberadaan Source karena Source dianggap sebagai game yang lebih buruk dibanding 1.6.

Penolakan terhadap CS: Source dilakukan banyak pemain di turnamen kelas premier internasional, di beberapa kompetisi regional Eropa, CS:Source masih cukup populer. KennyS, NBK, dan apEX misalnya terkenal di CS Source sebagai 3 pemain top di French Scene Source.

Uniknya CS:Source adalah salah satu game yang menjadi cabang kompetisi di Championship Gaming Series (CGS), liga gaming global yang sempat muncul di tahun 2007.

CGS menggunakan sistem franchising yang mirip dengan sistem Overwatch League. CGS adalah konsep yang “berani” pada masanya, dengan prize pool lebih dari US$ 400.000. Prize pool dengan angka seperti itu jauh di atas turnamen-turnamen pada masanya. Hal ini bisa terjadi berkat CGS disiarkan di DirecTV dan mendapatkan dukungan dana melimpah dari sponsor.

Namun CGS gagal karena kurangnya pemasukkan yang mereka dapat baik dari siaran TV, advertising dan juga biaya dari kompetisi dan produksi yang over-budget. Selain Counter Strike, CGS juga mempertandingkan FIFA, Dead or Alive 4, Halo 2, Battlefield 2, dan beberapa game Racing.

Beberapa tim dari CGS, CGS menerapkan sistem franchising yang mirip dengan Overwatch League dimana 1 tim ditempatkan di 1 Kota.

Presentasi acara dan juga eksekusi broadcast yang minim di sisi gameplay membuat CGS tidak bertahan lama. Hal yang paling penting untuk Counter Strike dari CGS adalah: Banyak pro player yang dijanjikan akan bertahan lama bermain di CGS berpindah dari CS 1.6 ke Source.

Proses perpindahan ini tentu bukanlah hal yang sepele karena adaptasi yang dilakukan bisa memakan waktu dan prosesnya tidak mudah. CGS adalah salah satu catatan penting di dalam sejarah esports yang seolah-olah berusaha dilupakan banyak pihak karena kegagalan masif mereka.

Para pemain CGS dijanjikan untuk mendapatkan kestabilan finansial sebagai bagian dari kontrak mereka selama 5 tahun dari musim inagurasi yakni 2007. Namun sayangnya CGS justru pincang di akhir musim keduanya karena keadaan finansial yang buruk dan tim produksi kesulitan untuk mendapatkan profit.

Source adalah bagian dari Counter-Strike yang menciptakkan polarisasi. Di satu sisi banyak pemain yang menyukai gameplay dari Source. Di sisi lain, banyak juga pemain yang kecewa dan pada akhirnya bertahan di 1.6 hingga Global Offensive muncul.

Namun Source tetap memberikan warisan yang signifikan untuk Counter-Strike karena Source membawa suasana baru dalam hal mapping, gameplay dan juga strategi. Source dikenal bertempo lebih cepat dibanding 1.6, sehingga secara strategi pemain 1.6 jauh lebih unggul dibanding Source.

Para pemain Source dan 1.6 kembali bersatu di Global Offensive. Global Offensive dengan segala hal baru di dalamnya justru membuat pemain 1.6 dengan mudah beradaptasi.

Source tidak dapat dipungkiri memang tidak seberhasil pendahulunya, tapi perjalanan Counter Strike menuju Global Offensive sangat dipengaruhi Source. Valve sebagai developer berusaha memahami masukkan dan juga saran dari komunitas agar versi terakhir Counter-Strike ini sesuai dengan yang diinginkan Komunitas.

Source dijanjikan akan mendapatkan beberapa update pada saat Valve merilis beta Counter-Strike : Global Offensive. Namun kenyataannya Valve melupakan game ini dan sepenuhnya fokus pada pengembangan Global Offensive.

Akhirnya…

Sekarang, dengan adanya Battle Royale dan MOBA yang menguasai scene kompetitif, CS pun sepertinya menurun popularitasnya (apalagi jika kita berbicara di Indonesia).

Namun demikian, terlepas dari apapun itu, Counter-Strike dan perjalanannya merupakan salah satu pionir di scene esports modern yang seharusnya tak begitu saja dilupakan.

Diedit oleh Yabes Elia

Written by Rudi Hartanto

Providing fresh insights and unique perspective in my piece(s).
Esports Historian. For discusion feel free to follow on twitter : @therudihartanto.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Loading…