in , ,

Revival’s Special : Profil Tim Aerowolf – yang Muda dan Berbahaya

Hari Sabtu lalu, 21 Oktober 2017, saya bermain ke markas salah satu tim gaming profesional baru yang namanya mulai mengusik dunia persilatan arena kompetitif CS:GO. Aerowolf namanya.

Awalnya, Aerowolf mulai mencuri perhatian berkat salah satu pemainnya, Jason “f0rsakeN” Susanto, yang masih berusia 13 tahun (di 2017). Namun perlahan, nama Aerowolf mulai diperhitungkan sebagai lawan yang berbahaya ketika mereka mulai mengalahkan nama-nama tim besar di kawasan Asia.

image credit: Aerowolf

HLTV mencatat Aerowolf berhasil mengalahkan Mineski asal Filipina di ESEA Open Season 25 Asia Pacific (10 – 26 Agustus 2017) lalu. Nama Aerowolf pun menduduki peringkat pertama di daftar Top Teams turnamen tersebut. Nama f0rsakeN dan Histoire juga duduk di 8 Top Players di sana.

image credit: HLTV.org

Aerowolf melanjutkan perjalanannya berburu mangsa baru ketika terjun di WCA 2017 China Qualifier Wild Card sebagai satu-satunya tim Indonesia yang berlaga di sana. Mereka lolos group stage dengan memimpin klasemen grup A di atas ViCi, Flash, TheMongolz, LGD, dan yang lainnya.

Sayangnya, langkah mereka terhenti di babak double elimination saat harus kalah melawan UYA dan ViCi.

Aerowolf saat penandatanganan kerjasama dengan ASUS ROG

Mereka mungkin memang masih mengawali perjalanan panjangnya. Namun, satu hal yang pasti, potensi Aerowolf begitu besar berkat pemain-pemainnya yang masih di usia belia.

Selain itu, di kala ujaran populer di jejaring sosial tentang “kids jaman now” nyaring berkumandang, kawan-kawan kami di Aerowolf yang juga masih muda belia malah lebih sibuk berlatih dan berambisi mengukir prestasi.

Karena itulah, saya tertarik untuk mengangkat profil tim yang satu ini.

Markasnya Aerowolf

Hari itu, saat saya bertandang, saya tidak bisa bertemu dengan seluruh anggota tim. Hanya ada Jimmy Lie, sang Manager, Jason “f0rsakeN” Susanto, Jose “Histoire” Iman, dan Anlika “LurkZz” Putra Wahyoedi di sana.

Awal obrolan kami, saya menanyakan tentang bagaimana Aerowolf terbentuk. Jose pun bercerita bahwa sebenarnya mereka sempat bergabung di bawah bendera tim profesional CS:GO asal Indonesia lainnya (yang namannya enggan disebutkan wkwkwkw… kamu yang biasa mengikuti gosip di komunitas CS:GO mungkin tahu ceritanya).

Namun, tim tersebut dipandang tidak dapat memberikan kepastian dalam menghantarkan Jose dan kawan-kawannya ke kancah profesional. Beserta dengan keempat kawannya, termasuk f0rsakeN, Jose pun mendirikan Aerowolf di bulan Mei 2017.

“Kenapa namanya Aerowolf?” Saya pun bertanya.

Jose menjelaskan nama itu adalah gabungan dari 2 kata yang ia pilih bersama kakaknya. Kakaknya menyarankan kata “wolf” karena serigala tidak pernah sendiri saat memburu mangsanya. Mereka selalu bersama dengan gerombolannya untuk mencapai tujuan.

Nama Aero pun dipilih karena “kedengerannya keren. Artinya kayak angin-angin gitu. Jadi serigala angin… wkwkwkw” canda Jose.

Lalu bagaimana dengan Jason yang masih berusia 13 tahun ini? Kenapa ia juga memutuskan untuk mengikuti Historie membentuk tim baru?

Jason sedang berpose dengan topi serigala

“Gajinya gedean di sini”, tukas Jason… Nyahahaha… Seisi ruangan pun tertawa mendengar jawaban jujurnya. “Lagian, semua pemain keluar. Saya main sama siapa kalau masih di sana (tim lamanya),” tambah Jason.

Anlika “LurkZz” Putra Wahyoedi, kamu pasti pernah dengar namanya. Ia sempat bergabung bersama TEAMnxl> namun ia memutuskan untuk keluar dari sana untuk kepentingan studinya. Saya sendiri sebenarnya juga sudah sempat mewawancarainya saat ia bergabung dengan nxl> karena kebetulan kala itu saya berada di balik layar tim tersebut.

Anlika (paling kiri) ketika bergabung dengan nxl. Image Credit: TEAMnxl>

Ia bercerita, Andrew “Bali” Joseph, Coach Aerowolf, yang mengajaknya bergabung dengan Aerowolf. Anlika yang sekarang terlihat lebih dewasa dan matang pun menambahkan, di Aerowolf, rekan-rekan satu timnya memang seumuran dengannya jadi ia lebih mudah mengatur jadwal latihan di sini.

Saya pun melanjutkan obrolan dengan menanyakan tantangan-tantangan terberat yang mereka hadapi.

Jason mengatakan bahwa tantangan terberat yang ia rasakan adalah musuh-musuhnya.

Jose pun menjelaskan lebih jauh tentang tantangan tersebut. “Kan kita ada 3 part-time. Terus musuhnya udah 5 full-time, mereka latihannya setiap hari. Mereka latihan juga lebih banyak dari kita yang hanya 4 kali seminggu. Mereka juga punya banyak pengalaman. Kita juga masih cari pengalaman juga sih,” ungkap Jose.

Jose di mejanya beserta PC kesayangan

Anlika juga menambahkan tentang tantangan yang ia rasakan. “Bagi waktu karena kita bertiga kan masih sekolah juga. Pasti orang tua-orang tua kita berharap sekolah tidak ketinggalan tapi kita tetap harus ikuti jadwal latihan dan jadwal tanding,” ucapnya.

“Sekarang sih komunikasi sih. Mungkin 3 dari pemain kita itu memang pendiem. acAp (Ashraf Firdaus) juga bukan orang Indo. Jadi mungkin kadang masih ada yang salah paham. Namun sekarang sudah mendingan.” Imbuh Anlika.

LurkZz lagi ngapain ini?

Lalu bagaimana solusi untuk mengatasi tantangan tersebut?

Anlika menjawab dengan bijak, “solusinya kita sudah tahu sih tapi semuanya itu butuh waktu. Jadi yang kita perluin itu sekarang adalah waktu.”

Target tahun ini dan proyeksi akhir tahun 2018?

Jose mengatakan, “kalau target akhir tahun 2018 sih, nomor 1 di Indonesia, masuk Minor (league), dan top 3 di SEA (Asia Tenggara). Kalau akhir tahun ini masih harus matengin konsistensi. Kadang kita masih kalah dengan tim lokal tapi bisa menang lawan tim luar.”

Terakhir, saya pun menanyakan tentang idola tim dari masing-masing dan harapan mereka jadi tim yang seperti apa kedepannya.

G2 Esports menjuarai ESL Pro League S5 – Finals

Anlika mengaku, “kalo idola tim sih G2. Tapi, kalo misalnya gw berharap tim kita kayak gimana, SK (Gaming) sih karena tim mereka kompak banget. 4 pemain mereka udah lama banget.”

Sedangkan Jason menyebut nama Astralis sebagai tim idolanya dan G2 sebagai harapan tim mereka akan seperti apa nantinya. Karena, menurutnya, G2 bermain dengan sangat baik, “mati satu dah bunuh lagi.” Ungkap Jason.

Ninja in Pyjamas. Image Credit: Team Liquid Wiki

Jose, yang begitu bersemangat bercerita tentang tim-tim idolanya, mengaku, “dulu yang buat aku pengen main CS itu NiP (Ninja in Pyjamas).” Astralis dan SK Gaming juga disebut-sebut karena teamwork mereka. Ia juga mengagumi G2 karena kerja keras mereka.

“Mereka mainnya map control dan susah ditebak strateginya. Mereka juga tidak sombong karena tidak pernah merasa sebagai super team.” Tutup Jose.

Aerowolf yang sedang ‘ritual’ sebelum tanding. Image Credit: Dok. Aerowolf

Sebenarnya, obrolan kami masih berlanjut tentang cara mereka membagi waktu antara sekolah dan berlatih. Namun, saya akan menuliskan hasil obrolan tersebut di lain artikel karena artikel ini mungkin sudah terlalu panjang.

Akhirnya, dari obrolan ini, saya jujur sangat mengagumi kawan-kawan kita di Aerowolf karena mereka seolah dengan tegas mengatakan, “jangan remehkan kami hanya karena kami muda” dan mereka berjuang keras untuk membuktikannya.

Written by Yabes Elia

Memulai petualangannya di industri media sejak Desember 2008 saat bergabung dengan majalah T3 Indonesia. Pernah juga bermain dan belajar sebagai Managing Editor majalah PC Gamer Indonesia selama 5 tahun.

Follow me: twitter.com/Yabes_Elia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Loading…