in , ,

Revival’s Special: Kondisi Esports Malaysia dan Indonesia di Mata Mohd ‘wanr0’ Syazwan

Hubungan antara Malaysia dan Indonesia itu memang selalu menarik. Kita dua negara yang dekat secara geografis dengan bahasa negara yang tak jauh berbeda. Hubungan kita di berbagai aspek dengan saudara-saudara kita di sana seakan seperti hubungan love-hate antara kakak dan adiknya.

Kita pun seringkali dibandingkan di berbagai aspek, termasuk esports. Kami pun mendapat kesempatan untuk berbincang-bincang dengan salah satu tokoh esports Malaysia, Mohd ‘wanr0’ Syazwan tentang masa depan CS:GO di Indonesia, maupun Asia.

Boleh kenalin diri dulu ke pembaca RevivalTV kah?

“Nama saya Mohd Syazwan, dengan nickname wanr0. Kebanyakan orang memanggil saya dengan nama wanro. Umur saya saat ini adalah 28 tahun. Status saya telah menikah, dan telah memiliki 1 anak dengan umur 5 bulan.” Jelas wanr0 sembari bercanda bahwa anaknya akan jadi penerusnya nanti.

“Saya telah berada di ranah gaming lebih dari 10 tahun. Sedangkan saya telah bermain secara professional sejak tahun 2007, tepatnya sejak versi  versi  CS 1.6. Saya bermain di beberapa tim besar di Malaysia seperti Team LZ, PWYH, Karnal, Orange Esports, MVP Karnal, JYP Gaming, dan Anthrax Esports. Selain itu, saya juga bermain CSO, Sudden Attack, a.v.a, dan CrossFire.”

Ia juga menambahkan bahwa pencapaiannya yang paling tinggi yaitu saat ia bersama timnya merebut posisi keempat di Grand Final WCG 2012. Walaupun begitu, Wanro telah pensiun dari dunia kompetitif, dan sekarang ia berkarir di dunia esports sebagai event organizer, khususnya di game CS:GO.

Dapatkah Anda menceritakan keadaan esports saat ini di Malaysia, khususnya dalam CS:GO?

Sekarang, Malaysia memiliki ekosistem esports yang lebih baik. CS:GO di malaysia bertumbuh sangat pesat, baik dari segi turnamen maupun pro scene-nya. Telah banyak penyelenggara yang tidak hanya melirik ke Dota 2, namun juga CS:GO. Jika kita kembali ke tahun 2015 silam, kita hanya dapat melihat kira-kira 2-3 event besar di Malaysia.

Namun, setelah ESL One Qualifier diadakan di Malaysia, mata internasional lebih terbuka, dan akhirnya pihak EO turnamen internasional lebih sering mengundang Malaysia ke turnamen besar seperti Dreamhack, WESG, dan lain lain.

Sejak awal tahun 2016, pandangan para brand sponsor terhadap esports cukup meyakinkan, dan organisasi-organisasi baru dengan tim yang solid bermunculan. Tidak hanya itu, pemerintah Malaysia mendukung cabang esports di Olympic, Sukan SEA, dan SUKMA (SUkan Malaysia/ Malaysia Sports Day).

[Editor-in-Chief’s Piece] Ketika Usia jadi Berbahaya Bagi Atlit Esports

Walaupun begitu, kita masih perlu meningkatkan performa kami terhadap tim SEA lainnya. Sejujurnya, peringkat tim malaysia di SEA telah menurun dari sebelumnya.

Di sebuah interview oleh Andrew “kaze” Chong, ia berkata bahwa CS:GO di Malaysia sulit berkembang, dan hanya didominasi oleh generasi lama. Ia juga mengatakan bahwa talenta muda susah untuk berkembang di Malaysia. Apakah pernyataan kaze sudah tidak valid atau mungkin Anda mempunyai jawaban tersendiri?

Saya mendukung pernyataan yang diberikan oleh Kaze. Saya juga telah sering mengatakannya.

Jika dibandingkan dengan dulu, kita telah bertumbuh dengan sangat pesat. Telah lebih banyak turnamen di tahun 2017, saya bisa mengatakan sekitar 5-6 event besar, 20-30 turnamen lokal, 10 kualifikasi internasional secara online, dan 4-5 kualifikasi internasional secara LAN.

Di kebanyakan event yang saya urus, saya telah melihat banyak tim baru terbentuk dan terlihat banyak muka-muka baru, dan darah muda. Tapi saya harus mengatakan bahwa generasi lama masih mendominasi.

Saya pikir karena mental dari generasi baru telah berbeda dibandingkan dengan generasi lama. Sekarang lebih mudah untuk “ikut” ke sebuah turnamen dibandingkan dengan dulu. Mungkin alasan itu yang membuat generasi muda tidak serius.

Tidak hanya itu, tim-tim baru sangat sering mengganti-ganti pemain, sehingga mereka tidak bisa fokus di permainan mereka. Ini mungkin dampak dan kesalahan yang telah banyak dilakukan oleh talenta muda Malaysia.

Walaupun begitu, sekarang telah tersedia banyak edukasi esports di malaysia, contohnya APU Esports Course yang berisi kursus berbagai game esports di Asia Pasific University. Talenta muda Malaysia dapat belajar banyak dari pengalaman belajar di sana, dan pelatih yang kompeten dalam bidangnya.

Tidak lupa bahwa sekarang tersedia lebih banyak pengenalan tentang esports khususnya CS:GO di seluruh Malaysia, tentang bagaimana cara memasuki dunia professional pada saat ini.

Pemain baru Malaysia menurut wanr0 perlu konsistensi dalam timnya agar mencapai hasil yang maksimal

Saya harap ini dapat membantu generasi muda untuk jadi lebih baik lagi.

Selain itu, tim tier 2 di Malaysia telah menunjukan peningkatan yang sangat cepat, dari top 20 sekarang menjadi top 2 di Malaysia. Saya bisa katakan pada tahun ini, kita dapat melihat calon juara baru.

Telah banyak tim yang posisinya sekarang “Zero To Something” seperti MVP.Karnal yang baru, Virtual Genesis, Fallout Gaming, Nara Gaming, dan tidak lupa roster baru dari Orange Esports.

Bagaimana Anda melihat pro scene CS:GO di Indonesia, dari perspektif seorang warga Malaysia?

Indonesia sekarang lebih baik dibandingkan dulu. Kita dapat melihat Recca Esports sempat mendominasi Asia Tenggara hingga BnTeT dibeli oleh TyLoo. Itu adalah pencapaian baru untuk Indonesia karena seorang warga negara Indonesia dapat diangkat ke salah satu tim besar Asia, dan tentu mereka dapat membawa bendera kebangaan Indonesia di event internasional.

Dan tidak ketinggalan xccurate yang baru saja dibeli oleh TyLoo. Selain itu, Indonesia juga sempat meminang seorang pemain Malaysia, yaitu areel. Mencampur pemain Malaysia dengan Indonesia adalah keputusan baik. Semoga DDS lekas dapat mendominasi pro scene CS:GO Indonesia.

Tidak dapat dipungkiri Indonesia dan Malaysia adalah rival di pro scene CS:GO, namun kita juga sangat dekat dengan satu sama lainnya. Saya tidak melihat ada masalah jika Indonesia memiliki cabang esports di Hari Olahraga Indonesia atau semacamnya, dan mengirimkan wakil Indonesia ke Olympic 2022.

Saya juga berharap Asian Games di Indonesia berisi cabang esports di dalamnya.

Saya selalu berharap bahwa Indonesia akan memiliki event LAN yang terbuka untuk semua tim Asia Tenggara untuk bergabung, seperti turnamen Malaysia yang selalu terbuka untuk umum. Saya pikir itulah yang Indonesia belum miliki saat ini.

Diedit oleh Yabes Elia

Written by Juandi

Esports News Writer, especially CS:GO.

Business Enq: juandik123@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Loading…